Penyebab Diare yang Sering Diabaikan, dari Infeksi hingga Gangguan Usus

Kesehatan8 Views

Diare kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan ringan yang akan berhenti dengan sendirinya. Pada banyak kasus, keluhan ini memang berlangsung singkat. Namun, diare juga dapat menjadi tanda infeksi, gangguan penyerapan makanan, peradangan usus, reaksi obat, hingga penyakit tertentu yang memerlukan pemeriksaan medis.

Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan diare sebagai buang air besar dengan tinja cair atau encer sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari. Frekuensi buang air besar yang lebih sering dibandingkan kebiasaan seseorang juga dapat diperhitungkan. Buang air besar berulang dengan tinja yang masih padat tidak termasuk diare.

Perubahan bentuk tinja terjadi ketika usus tidak mampu menyerap cairan dengan baik atau justru mengeluarkan terlalu banyak cairan ke saluran pencernaan. Kondisi ini dapat dipicu oleh mikroorganisme, makanan, obat, peradangan, maupun gangguan kerja usus.

Infeksi Menjadi Penyebab Diare yang Paling Sering Ditemukan

Infeksi saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare akut. Mikroorganisme dapat masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, tangan, peralatan makan, atau benda lain yang telah tercemar. Setelah mencapai usus, mikroorganisme tersebut dapat merusak lapisan usus atau menghasilkan zat beracun yang memicu keluarnya cairan dalam jumlah besar.

Infeksi penyebab diare umumnya berasal dari virus, bakteri, atau parasit. Penularannya sering berhubungan dengan air minum yang tidak aman, sanitasi yang buruk, pengolahan makanan yang tidak bersih, serta kebiasaan tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet.

Virus Dapat Menyebar Cepat di Lingkungan Padat

Virus merupakan penyebab umum diare akut, terutama pada anak. Beberapa virus yang dapat menimbulkan diare adalah rotavirus, norovirus, adenovirus, astrovirus, dan sapovirus. Selain buang air besar encer, infeksi virus dapat disertai mual, muntah, demam ringan, nyeri perut, serta tubuh terasa lemas.

Norovirus mudah menyebar melalui makanan, air, permukaan benda, atau kontak dengan orang yang terinfeksi. Jumlah virus yang sangat sedikit sudah dapat menyebabkan penyakit. Penularan dapat terjadi di rumah, sekolah, tempat penitipan anak, asrama, kapal, restoran, dan fasilitas kesehatan.

Rotavirus dikenal sebagai salah satu penyebab diare berat pada bayi dan balita. Anak yang terinfeksi dapat mengalami diare cair berulang, muntah, demam, dan kehilangan cairan dalam waktu cepat. Kementerian Kesehatan menyebut rotavirus sebagai penyebab utama diare berat pada balita yang menjalani perawatan di rumah sakit di Indonesia.

Bakteri Sering Masuk Melalui Makanan dan Air

Bakteri penyebab diare dapat mencemari air minum, daging, telur, susu, sayur, buah, makanan laut, atau makanan matang yang disimpan dengan cara tidak tepat. Jenis bakteri yang sering dikaitkan dengan diare antara lain Escherichia coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Vibrio, dan Clostridium perfringens.

Sebagian bakteri menyerang langsung lapisan usus. Sebagian lainnya menghasilkan racun yang memaksa usus mengeluarkan air dan elektrolit. Keluhan dapat muncul dalam beberapa jam atau beberapa hari setelah makanan tercemar dikonsumsi, bergantung pada jenis bakteri dan racun yang terlibat.

Diare akibat bakteri tidak selalu berupa tinja cair tanpa warna. Pada infeksi tertentu, tinja dapat bercampur lendir, darah, atau nanah. Demam tinggi, kram perut berat, dan rasa ingin buang air besar terus menerus juga dapat muncul. Shigella dan beberapa jenis E. coli dapat menyebabkan diare berdarah, sedangkan Vibrio cholerae dapat memicu diare cair dalam jumlah sangat banyak.

Parasit Dapat Menyebabkan Keluhan Berkepanjangan

Parasit masuk ke tubuh terutama melalui air atau makanan yang tercemar tinja. Giardia, Cryptosporidium, dan Entamoeba merupakan beberapa parasit yang dikenal dapat menyebabkan diare.

Infeksi Giardia dapat menimbulkan tinja berminyak, berbau menyengat, mengapung, serta disertai kembung dan kram perut. Keluhan dapat berlangsung lebih lama daripada diare akibat virus. Sementara itu, Entamoeba histolytica dapat menyebabkan peradangan usus dan diare berdarah.

Parasit perlu lebih dicurigai ketika diare berlangsung selama beberapa minggu, muncul setelah perjalanan, terjadi setelah meminum air yang tidak diolah, atau dialami oleh orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Pemeriksaan tinja sering diperlukan untuk mengetahui jenis parasit yang menyebabkan keluhan.

Keracunan Makanan Tidak Selalu Terjadi karena Makanan Basi

Makanan yang tampak segar belum tentu bebas dari mikroorganisme. Pencemaran dapat terjadi sejak bahan pangan ditanam, dipanen, dipotong, dikemas, dikirim, disimpan, hingga disajikan. Tangan pekerja, pisau, talenan, wadah, air pencuci, dan meja dapur juga dapat menjadi perantara penularan.

Daging dan telur yang belum matang, susu yang tidak melalui pasteurisasi, makanan laut mentah, buah potong, sayuran yang tidak dicuci, serta makanan matang yang dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama memiliki risiko lebih tinggi membawa mikroorganisme berbahaya.

Pencemaran silang juga menjadi penyebab yang sering tidak disadari. Cairan dari ayam mentah dapat menempel pada talenan, pisau, tangan, atau makanan yang sudah matang. Apabila peralatan tidak dicuci dengan benar, bakteri dapat berpindah tanpa mengubah bau maupun rasa makanan.

Menurut penulis, anggapan bahwa makanan aman selama tidak berbau adalah kebiasaan yang perlu dikoreksi. Sejumlah mikroorganisme berbahaya tidak selalu membuat warna, rasa, atau aroma makanan berubah.

Racun alami dan bahan kimia tertentu juga dapat menyebabkan diare. Racun dari ganggang yang terkumpul pada kerang, jamur liar beracun, serta residu bahan kimia dalam jumlah tinggi dapat mengiritasi saluran pencernaan. Keluhannya dapat disertai muntah, mati rasa, kelemahan otot, gangguan penglihatan, atau gangguan saraf.

Air Tidak Bersih Membuka Jalur Penularan Penyakit

Air dapat terlihat jernih tetapi tetap mengandung virus, bakteri, atau parasit. Sumur yang berdekatan dengan septic tank, saluran air yang bocor, penyimpanan air terbuka, dan banjir dapat meningkatkan kemungkinan pencemaran.

Air tercemar dapat menimbulkan penyakit ketika diminum, digunakan untuk membuat es, mencuci bahan makanan, menyikat gigi, atau membersihkan peralatan makan. Ikan dan kerang yang hidup di perairan tercemar juga dapat membawa mikroorganisme ke meja makan.

Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa air tercemar dan sanitasi yang tidak memadai berkaitan dengan penularan diare, kolera, disentri, demam tifoid, hepatitis A, dan sejumlah penyakit lain. Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun serta penggunaan air yang aman dapat mengurangi risiko penularan.

Intoleransi Makanan Membuat Usus Kesulitan Mencerna Zat Tertentu

Diare tidak selalu disebabkan oleh infeksi. Pada sebagian orang, usus tidak dapat mencerna atau menyerap komponen makanan tertentu dengan baik. Zat yang tidak terserap akan menarik air ke dalam usus dan difermentasi oleh bakteri, sehingga menimbulkan tinja encer, gas, kembung, serta nyeri perut.

Intoleransi laktosa merupakan salah satu contoh yang paling dikenal. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kekurangan enzim laktase untuk memecah laktosa, yaitu gula alami dalam susu. Keluhan biasanya muncul setelah mengonsumsi susu atau produk yang mengandung laktosa.

Kemampuan mencerna laktosa dapat menurun sementara setelah seseorang mengalami infeksi usus. Lapisan usus yang belum pulih sepenuhnya menghasilkan enzim laktase lebih sedikit, sehingga susu dapat memicu diare meskipun sebelumnya dapat dikonsumsi tanpa masalah.

Fruktosa dan pemanis alkohol seperti sorbitol, manitol, serta xylitol juga dapat menyebabkan diare pada orang tertentu. Zat tersebut dapat ditemukan dalam buah, minuman manis, permen bebas gula, permen karet, obat cair, dan produk rendah gula.

Alergi Makanan Dapat Memicu Peradangan Saluran Cerna

Alergi makanan berbeda dari intoleransi. Intoleransi berkaitan dengan kesulitan mencerna zat tertentu, sedangkan alergi melibatkan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein makanan.

Susu sapi, telur, kedelai, gandum, ikan, dan makanan laut dapat memicu reaksi pada orang yang memiliki alergi. Diare dapat muncul bersama muntah, sakit perut, ruam, gatal, pembengkakan, batuk, atau sesak napas.

Pada bayi, alergi protein susu sapi dapat menimbulkan tinja encer, lendir, atau bercak darah. Diagnosis tidak boleh hanya didasarkan pada perubahan tinja karena gejala serupa dapat terjadi pada infeksi dan gangguan pencernaan lain. Penghilangan jenis makanan tertentu perlu dilakukan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

Antibiotik dan Sejumlah Obat Dapat Mengubah Kerja Usus

Antibiotik tidak hanya membunuh bakteri penyebab penyakit. Obat ini juga dapat mengurangi jumlah bakteri normal yang membantu menjaga keseimbangan di dalam usus. Perubahan tersebut dapat membuat tinja menjadi lebih cair selama penggunaan obat atau beberapa waktu setelah pengobatan selesai.

Pada kasus tertentu, penggunaan antibiotik memungkinkan bakteri Clostridioides difficile berkembang secara berlebihan. Bakteri ini dapat menyebabkan peradangan usus, diare berulang, demam, dan nyeri perut. Risikonya lebih tinggi pada orang yang baru dirawat di rumah sakit, lanjut usia, atau menggunakan antibiotik dalam waktu lama.

Obat kanker, antasida yang mengandung magnesium, obat pencahar, metformin, serta beberapa obat cair yang mengandung sorbitol juga dapat menyebabkan diare. Seseorang tidak disarankan menghentikan obat resep secara sepihak. Dokter perlu menilai apakah keluhan berasal dari obat, penyakit yang sedang diobati, atau penyebab lain.

Penyakit Usus Dapat Menyebabkan Diare Berulang

Diare yang berlangsung lama atau sering kambuh perlu mendapat perhatian lebih besar. Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan penyakit Crohn, kolitis ulseratif, penyakit celiac, sindrom iritasi usus, gangguan pankreas, pertumbuhan bakteri berlebihan, atau gangguan penyerapan zat gizi.

Penyakit Crohn dan kolitis ulseratif menyebabkan peradangan menetap pada saluran pencernaan. Selain diare, penderitanya dapat mengalami nyeri perut, tinja berdarah, berat badan turun, anemia, demam, serta mudah lelah.

Penyakit celiac terjadi ketika konsumsi gluten memicu reaksi kekebalan yang merusak permukaan usus halus. Kerusakan ini mengganggu penyerapan zat gizi dan dapat menyebabkan diare, kembung, tinja berminyak, anemia, atau penurunan berat badan.

Sindrom iritasi usus tidak menyebabkan luka seperti penyakit radang usus, tetapi mengubah gerakan dan kepekaan saluran cerna. Sebagian penderita lebih sering mengalami diare, sedangkan yang lain mengalami sembelit atau pergantian keduanya.

Stres dan Kecemasan Dapat Mempercepat Gerakan Usus

Otak dan saluran pencernaan saling berkomunikasi melalui saraf, hormon, dan berbagai senyawa kimia. Saat seseorang mengalami stres atau kecemasan, gerakan usus dapat menjadi lebih cepat. Cairan di dalam usus belum sempat diserap seluruhnya sehingga tinja keluar dalam keadaan encer.

Diare yang berkaitan dengan stres biasanya muncul menjelang kegiatan yang menimbulkan tekanan, seperti ujian, perjalanan, wawancara, atau pekerjaan dengan beban tinggi. Meski demikian, diare berulang tidak boleh langsung dianggap hanya disebabkan oleh keadaan emosional.

Dokter tetap perlu menilai adanya infeksi, intoleransi makanan, penyakit radang usus, efek obat, atau gangguan lain. Stres dapat memperburuk keluhan yang sudah ada, terutama pada orang dengan sindrom iritasi usus.

Penulis menilai bahwa menyebut seluruh diare berulang sebagai akibat masuk angin atau stres dapat menunda pemeriksaan penyakit saluran cerna yang seharusnya ditangani lebih awal.

Bayi dan Lansia Lebih Cepat Mengalami Kekurangan Cairan

Diare mengeluarkan air serta elektrolit seperti natrium, kalium, klorida, dan bikarbonat dari tubuh. Apabila cairan tidak segera diganti, penderita dapat mengalami dehidrasi. Risiko ini lebih besar pada bayi, balita, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Tanda dehidrasi pada orang dewasa meliputi rasa haus berlebihan, mulut kering, urine berwarna pekat, frekuensi buang air kecil menurun, pusing saat berdiri, lemah, dan mata terlihat cekung. Pada bayi, tanda yang perlu diperhatikan adalah popok tetap kering selama beberapa jam, tidak keluar air mata saat menangis, mulut kering, mata cekung, serta anak menjadi sangat lemas atau rewel.

Tinja Berdarah dan Demam Tinggi Perlu Segera Diperiksa

Diare ringan tanpa tanda bahaya sering membaik dalam beberapa hari. Namun, pemeriksaan medis diperlukan apabila tinja bercampur darah atau nanah, berwarna hitam seperti aspal, disertai demam tinggi, muntah terus menerus, nyeri perut berat, kebingungan, atau tanda dehidrasi.

Orang dewasa sebaiknya mencari pertolongan medis jika mengalami buang air besar encer enam kali atau lebih dalam sehari, tidak mampu minum, atau diare berlangsung lebih dari tiga hari. Lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta atau daya tahan tubuh lemah perlu memperoleh penilaian lebih cepat.

Pada bayi dan anak, kehilangan cairan dapat berkembang hanya dalam satu atau dua hari. Anak yang tidak mau minum, terus muntah, sangat mengantuk, mengalami demam, buang air besar berdarah, atau menunjukkan tanda dehidrasi perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Dokter dapat menelusuri penyebab melalui riwayat makanan, penggunaan obat, perjalanan, lama keluhan, bentuk tinja, serta gejala penyerta. Pemeriksaan darah atau tinja dapat dilakukan ketika dicurigai terdapat infeksi, perdarahan, peradangan, parasit, atau gangguan penyerapan. Diare yang menetap juga dapat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi usus dan organ pencernaan lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *