Dokter Ingatkan Anak Pendek Belum Tentu Stunting, Ini Cara Membedakannya

Gaya Hidup25 Views

Dokter Ingatkan Anak Pendek Belum Tentu Stunting, Ini Cara Membedakannya Tinggi badan anak yang berada di bawah rata rata teman seusianya sering membuat orang tua langsung menduga stunting. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami karena tubuh pendek memang menjadi salah satu tanda utama gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi berkepanjangan. Namun, dokter mengingatkan bahwa ukuran tinggi badan saja belum cukup untuk menetapkan penyebabnya.

Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan menegaskan bahwa anak yang mengalami stunting mempunyai perawakan pendek, tetapi tidak semua anak pendek mengalami stunting. Tubuh pendek juga dapat dipengaruhi keturunan, gangguan hormon, kelainan genetik, penyakit kronis, gangguan tulang, atau pola pertumbuhan yang terlambat.

Perbedaan penyebab tersebut penting karena setiap anak memerlukan penanganan yang tidak sama. Anak yang kekurangan asupan membutuhkan perbaikan makan dan penanganan penyakit penyerta. Anak dengan kekurangan hormon pertumbuhan memerlukan pemeriksaan khusus. Sementara itu, anak yang pendek mengikuti tinggi kedua orang tuanya mungkin hanya membutuhkan pemantauan apabila kecepatan tumbuh dan perkembangan berjalan sesuai usianya.

Pesan Dokter Mencegah Kesalahan Diagnosis

Peringatan mengenai anak pendek dan stunting kembali disampaikan Prof. Aman dalam webinar pada Rabu, 22 Juli 2026. Ia meminta orang tua tidak menyimpulkan sendiri penyebab tubuh pendek hanya dengan membandingkan anak dengan teman sekolah, saudara, atau informasi dari media sosial.

Menurut Prof. Aman, perawakan pendek mempunyai penyebab yang sangat luas. Pemeriksaan harus dimulai dengan pengukuran yang benar, pencatatan pada kurva pertumbuhan, penilaian tinggi orang tua, serta penelusuran riwayat sejak kehamilan. Dokter juga perlu melihat ada atau tidaknya penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan.

Kesalahan diagnosis berisiko membuat anak memperoleh penanganan yang tidak dibutuhkan. Pemberian makanan dalam jumlah berlebihan kepada anak pendek dengan berat badan normal, misalnya, tidak selalu membuat tinggi bertambah. Kebiasaan tersebut justru dapat meningkatkan berat badan secara berlebihan tanpa memperbaiki penyebab pertumbuhan yang sebenarnya.

Menurut penulis, kewaspadaan terhadap stunting perlu berjalan bersama ketelitian. Label yang diberikan terlalu cepat dapat membuat orang tua mengejar kenaikan berat badan, padahal anak mungkin memerlukan pemeriksaan hormon, penyakit kronis, atau faktor keturunan.

Perawakan Pendek Bukan Nama Penyakit

Perawakan pendek merupakan gambaran fisik, bukan satu penyakit tertentu. Istilah ini digunakan ketika tinggi atau panjang badan anak berada jauh di bawah ukuran yang diharapkan berdasarkan usia dan jenis kelaminnya.

WHO mendefinisikan stunting pada pemantauan populasi sebagai panjang atau tinggi badan menurut usia yang berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Stunting berkaitan dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis atau berulang, penyakit yang sering terjadi, serta pengasuhan dan stimulasi yang tidak memadai.

Batas pada kurva membantu petugas menemukan anak yang perlu diperiksa lebih lanjut. Namun, kurva pertumbuhan tidak dimaksudkan sebagai satu satunya alat diagnosis. CDC menjelaskan kurva berfungsi membantu tenaga kesehatan membentuk penilaian klinis menyeluruh, bukan menggantikan pemeriksaan anak dan riwayat kesehatannya.

Artinya, dua anak dengan tinggi yang sama dapat mempunyai penyebab berbeda. Anak pertama mungkin mengalami kekurangan gizi dan infeksi berulang, sedangkan anak kedua tumbuh sesuai jalur keluarga karena ayah dan ibunya juga berperawakan pendek.

Satu Kali Pengukuran Belum Memberikan Gambaran Lengkap

Pengukuran tinggi pada satu kesempatan hanya menunjukkan posisi anak saat itu. Dokter memerlukan data berulang untuk mengetahui apakah anak terus bertambah tinggi dengan kecepatan yang sesuai atau justru mengalami perlambatan.

IDAI menekankan bahwa setiap anak mempunyai kecepatan pertumbuhan berbeda. Panjang atau tinggi badan perlu dicatat secara berkala agar perubahan jalur pertumbuhan dapat diketahui lebih awal.

Kesalahan satu sampai dua sentimeter dapat mengubah posisi anak pada kurva, terutama pada bayi dan balita. Karena itu, bayi harus diukur dalam posisi berbaring menggunakan papan panjang badan, sedangkan anak yang sudah dapat berdiri diukur memakai alat tinggi badan yang tegak dan stabil.

Sepatu, hiasan rambut, posisi kepala, lutut yang menekuk, atau tumit yang tidak menempel dapat membuat hasil tidak tepat. Pengukuran sebaiknya dilakukan oleh petugas terlatih dan dibandingkan dengan catatan kunjungan sebelumnya.

Faktor Keturunan Dapat Membuat Anak Lebih Pendek

Tinggi orang tua berperan dalam menentukan kisaran tinggi yang mungkin dicapai anak. Anak dari ayah dan ibu berperawakan pendek dapat tumbuh pada jalur yang lebih rendah dibandingkan rata rata, tetapi tetap sehat serta berkembang sesuai usia.

IDAI menyediakan kalkulator tinggi potensi genetik untuk memperkirakan tinggi dewasa berdasarkan tinggi kedua orang tua. Hasil perhitungan bukan angka pasti, melainkan kisaran yang membantu dokter menilai apakah pertumbuhan anak masih sesuai dengan potensi keluarganya.

Pada perawakan pendek familial, anak biasanya mempunyai berat badan yang seimbang dengan tinggi, kecepatan tumbuh yang stabil, serta usia tulang yang tidak jauh tertinggal. Perkembangan motorik, bahasa, sosial, dan kemampuan belajarnya juga tidak selalu terganggu.

Meskipun demikian, orang tua pendek tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan perlambatan pertumbuhan. Anak tetap perlu diperiksa apabila garis tingginya turun, tidak bertambah sesuai waktu, atau jauh lebih rendah daripada kisaran yang diperkirakan dari tinggi keluarga.

Pubertas Terlambat Bisa Memengaruhi Tinggi Sementara

Sebagian anak mengalami pola pertumbuhan dan pubertas yang lebih lambat dibandingkan teman sebaya. Mereka dapat terlihat pendek ketika masih sekolah, tetapi mempunyai kesempatan tumbuh lebih lama karena pematangan tulangnya berjalan lebih lambat.

Riwayat serupa sering ditemukan pada keluarga. Ayah mungkin baru mengalami pertumbuhan pesat pada akhir masa sekolah, sedangkan ibu mendapat menstruasi pertama lebih lambat dibandingkan teman seusianya.

Dokter dapat menilai pola ini melalui riwayat keluarga, tanda pubertas, kecepatan pertumbuhan, dan pemeriksaan usia tulang. Foto rontgen tangan serta pergelangan tangan kiri dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat kematangan tulang apabila memang diperlukan.

Pemeriksaan tetap penting karena keterlambatan pubertas juga dapat berkaitan dengan gangguan hormon, penyakit kronis, kekurangan gizi, atau kelainan pada organ reproduksi. Penilaian tidak sebaiknya hanya didasarkan pada anggapan bahwa anak akan bertambah tinggi dengan sendirinya.

Stunting Berkaitan dengan Kekurangan Gizi Berkepanjangan

Stunting bukan sekadar hasil dari tidak minum susu atau tidak mengonsumsi satu jenis makanan tertentu. WHO menjelaskan kondisi tersebut terbentuk melalui gabungan kekurangan gizi, infeksi berulang, kesehatan ibu yang kurang baik, pola pemberian makan yang tidak sesuai, serta stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Prosesnya dapat dimulai sejak anak berada dalam kandungan. Ibu yang mengalami kekurangan gizi, anemia, infeksi, atau gangguan kesehatan berisiko melahirkan bayi dengan pertumbuhan yang kurang optimal.

Setelah lahir, risiko dapat bertambah apabila anak tidak memperoleh makanan yang memenuhi kebutuhan energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Diare berulang, tuberkulosis, gangguan saluran cerna, serta penyakit lain juga dapat menghambat penyerapan dan penggunaan zat gizi.

IDAI mengingatkan bahwa masa pemberian makanan pendamping ASI memegang peran besar. Makanan perlu mengandung protein hewani, sumber energi, lemak, serta bahan lain dengan bentuk dan jumlah yang disesuaikan terhadap usia anak.

Seribu Hari Pertama Menjadi Periode Penting

Seribu hari pertama kehidupan dihitung sejak awal kehamilan sampai anak berusia dua tahun. Pada periode ini, pertumbuhan tubuh dan otak berlangsung sangat cepat sehingga kekurangan gizi berkepanjangan dapat menghambat pencapaian kemampuan anak.

WHO menyebut usia enam sampai 24 bulan sebagai periode yang sangat sensitif karena anak mulai membutuhkan makanan pendamping selain ASI, sementara risiko infeksi juga meningkat ketika ia semakin aktif menjelajahi lingkungan.

Pencegahan karena itu dimulai dari kesehatan remaja putri dan calon ibu. Status gizi, pencegahan anemia, pemeriksaan kehamilan, pola makan ibu, serta pemantauan pertumbuhan janin menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Setelah bayi lahir, pemantauan berat, panjang badan, lingkar kepala, kemampuan makan, dan perkembangan harus dilakukan secara berkala. Gangguan kenaikan berat badan sering muncul sebelum perlambatan tinggi terlihat jelas.

Gangguan Hormon Juga Dapat Menghambat Pertumbuhan

Hormon pertumbuhan, hormon tiroid, hormon seks, dan beberapa hormon lain mengatur proses pertumbuhan tulang. Kekurangan atau gangguan kerja hormon dapat menyebabkan anak bertambah tinggi lebih lambat.

Anak dengan kekurangan hormon pertumbuhan dapat mempunyai tubuh pendek dengan berat yang tetap normal atau cenderung meningkat. Keadaan tersebut berbeda dari kekurangan gizi berat yang sering disertai berat badan rendah.

Gangguan kelenjar tiroid juga dapat menimbulkan perlambatan tinggi, mudah lelah, sembelit, kulit kering, atau keterlambatan perkembangan. Gejalanya tidak selalu lengkap sehingga pemeriksaan laboratorium dapat diperlukan berdasarkan penilaian dokter.

Prof. Aman menekankan bahwa terapi hormon pertumbuhan hanya boleh diberikan setelah diagnosis ditegakkan. Tidak semua anak pendek membutuhkan terapi tersebut, dan penggunaannya tidak ditujukan sekadar mengejar tinggi yang diinginkan keluarga.

Pemeriksaan hormon biasanya dilakukan apabila riwayat, kurva, kecepatan tumbuh, dan keadaan fisik mengarah pada gangguan endokrin. Memberikan hormon tanpa indikasi dapat menambah biaya, risiko medis, serta harapan yang tidak sesuai.

Penyakit Kronis Bisa Terlihat dari Pertumbuhan yang Melambat

Pertumbuhan membutuhkan energi dan keadaan tubuh yang sehat. Penyakit jantung, paru, ginjal, hati, saluran cerna, kelainan darah, dan infeksi berkepanjangan dapat membuat tubuh menggunakan banyak energi untuk bertahan sehingga pertumbuhan menjadi tertahan.

Anak dengan penyakit celiac atau gangguan penyerapan, misalnya, dapat mengalami kesulitan memperoleh zat gizi meskipun jumlah makanan terlihat cukup. Penyakit ginjal kronis dapat memengaruhi keseimbangan mineral, tulang, dan hormon pertumbuhan.

Keluhan seperti diare berulang, muntah, batuk lama, demam yang sering muncul, nyeri perut, buang air besar berdarah, mudah lelah, atau nafsu makan buruk perlu disampaikan kepada dokter.

Riwayat penggunaan obat tertentu juga penting. Pemakaian kortikosteroid dalam dosis tinggi dan waktu panjang untuk penyakit tertentu dapat menghambat pertumbuhan, meskipun obat tersebut tetap dibutuhkan untuk mengendalikan penyakit utama.

Kelainan Genetik dan Tulang Perlu Dikenali

Sejumlah kelainan genetik dapat menyebabkan tubuh pendek. Sindrom Turner pada anak perempuan, misalnya, dapat disertai pertumbuhan lambat dan gangguan perkembangan seksual. Sindrom Down mempunyai pola pertumbuhan tersendiri sehingga pemantauannya dapat menggunakan kurva khusus.

Kelainan tulang juga dapat membuat proporsi tubuh berbeda. Tangan atau kaki terlihat lebih pendek, kepala tampak lebih besar, atau perbandingan tubuh atas dan bawah tidak sesuai pola umum.

Dokter akan memperhatikan bentuk wajah, proporsi anggota tubuh, lebar rentang tangan, bentuk tulang belakang, serta tanda fisik lain. Pemeriksaan genetik atau radiologi hanya dilakukan apabila terdapat alasan medis yang cukup.

Riwayat kehamilan, kelahiran, berat lahir, panjang lahir, serta usia kehamilan turut membantu. Bayi yang lahir kecil perlu dipantau untuk mengetahui apakah ia berhasil mengejar pertumbuhan atau tetap berada jauh di bawah jalur yang diharapkan.

Berat Badan Membantu Menelusuri Penyebab

Tinggi badan tidak boleh dibaca terpisah dari berat badan. Anak yang pendek dan kurus memerlukan penilaian asupan, penyakit, serta kemampuan tubuh menyerap makanan. Anak pendek dengan berat berlebih dapat mengarah pada pola berbeda, termasuk faktor keturunan atau gangguan hormonal.

Dokter spesialis anak Madarina Julia menjelaskan bahwa pemeriksaan dini dapat melihat tinggi, berat, lingkar kepala, serta perkembangan. Seluruh data perlu dicatat menggunakan kurva pertumbuhan yang sesuai.

Namun, berat normal tidak otomatis menyingkirkan seluruh masalah. Beberapa anak dengan stunting dapat memiliki berat menurut tinggi yang normal. Karena itu, penilaian tetap harus melihat riwayat kenaikan berat, penyakit, asupan, dan perkembangan.

Lingkar kepala terutama penting pada bayi dan balita karena dapat memberi petunjuk mengenai pertumbuhan otak. Penurunan atau kenaikan yang tidak sesuai jalur perlu dinilai bersama keadaan anak secara keseluruhan.

Perkembangan Anak Turut Menjadi Bahan Pemeriksaan

Stunting berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, bukan hanya tinggi badan. Dokter perlu menilai kemampuan bergerak, berbicara, berinteraksi, belajar, dan menjalankan kegiatan sesuai usia.

Buku Kesehatan Ibu dan Anak memuat tahapan perkembangan yang dapat digunakan orang tua serta petugas untuk melakukan pemantauan awal. Anak dinilai dari kemampuan seperti tengkurap, duduk, berjalan, berbicara, merespons senyuman, dan berinteraksi dengan lingkungan.

Anak yang terlambat mencapai kemampuan tertentu belum tentu mengalami stunting. Keterlambatan dapat berkaitan dengan gangguan pendengaran, penglihatan, saraf, otot, kurangnya stimulasi, atau kondisi medis lain.

Sebaliknya, anak yang terlihat aktif tetap dapat mempunyai gangguan pertumbuhan. Karena itu, kesan bahwa anak tampak lincah tidak boleh menggantikan pengukuran tinggi serta berat secara teratur.

Menurut penulis, anak harus dilihat secara utuh. Tinggi badan merupakan satu petunjuk penting, tetapi kesehatan, kecepatan tumbuh, kemampuan belajar, riwayat penyakit, dan keadaan keluarga sama sama perlu diperiksa.

Kurva Pertumbuhan Harus Dibaca sebagai Jalur

Kurva pertumbuhan memperlihatkan jalur anak dari waktu ke waktu. Garis yang terus mengikuti pola tertentu sering lebih menenangkan daripada angka yang hanya diperoleh sekali.

Anak dapat berada pada bagian bawah kurva tetapi tetap tumbuh stabil. Keadaan menjadi lebih mengkhawatirkan ketika garis tinggi turun melewati beberapa jalur, pertumbuhan berhenti, atau kecepatan tumbuh jauh lebih rendah daripada yang diharapkan.

WHO menyediakan kurva panjang dan tinggi menurut usia untuk anak sampai lima tahun. IDAI juga menyediakan kurva tersebut serta alat untuk memperkirakan tinggi potensi genetik.

Orang tua sebaiknya membawa buku KIA setiap datang ke posyandu, puskesmas, klinik, atau dokter. Data lama sangat membantu karena dokter dapat membandingkan perubahan dalam beberapa bulan atau tahun.

Foto anak yang berdiri di samping dinding tidak dapat menggantikan pengukuran. Perbandingan dengan saudara juga tidak selalu tepat karena setiap anak mempunyai jenis kelamin, usia pubertas, kesehatan, dan potensi genetik berbeda.

Makan Berlebihan Bukan Jawaban bagi Semua Anak Pendek

Kekhawatiran sering membuat orang tua memberikan susu, suplemen, madu, vitamin, atau makanan berkalori tinggi secara berlebihan. Langkah tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan anak.

Apabila penyebab tubuh pendek adalah faktor keluarga atau gangguan hormon, tambahan kalori tidak langsung memperpanjang tulang. Berat badan dapat naik lebih cepat daripada tinggi sehingga anak memasuki kelompok berat berlebih.

Pemberian makan sebaiknya tetap berpedoman pada kebutuhan usia, jadwal teratur, porsi sesuai, dan ragam bahan pangan. Protein hewani penting, tetapi anak juga membutuhkan sumber karbohidrat, lemak, sayur, buah, serta mikronutrien.

Suplemen tidak boleh menggantikan makanan dan tidak selalu diperlukan. Zat besi, vitamin D, seng, atau bahan lain diberikan berdasarkan kebutuhan, pola makan, pemeriksaan, dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Tanda yang Membutuhkan Pemeriksaan Dokter

Orang tua disarankan membawa anak untuk diperiksa apabila tinggi jauh di bawah teman sebaya, pertumbuhan tampak berhenti, atau pakaian tidak berubah ukuran dalam waktu panjang. Pemeriksaan juga diperlukan ketika berat sulit naik atau justru meningkat berlebihan.

Tanda lain meliputi keterlambatan perkembangan, pubertas yang tidak muncul sesuai rentang usia, sering sakit, diare berkepanjangan, mudah lelah, nyeri tulang, bentuk anggota tubuh yang tidak seimbang, serta penurunan jalur pada kurva.

Anak yang lahir kecil, prematur, mempunyai penyakit bawaan, atau menggunakan obat jangka panjang memerlukan pemantauan lebih teliti. Riwayat tinggi anggota keluarga dan usia pubertas orang tua sebaiknya turut disampaikan.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, menghitung kecepatan tumbuh, mengukur proporsi tubuh, serta menilai tinggi potensi genetik. Pemeriksaan darah, usia tulang, fungsi tiroid, hormon pertumbuhan, ginjal, hati, atau tes genetik hanya dipilih berdasarkan dugaan penyebab.

Angka Stunting Indonesia Masih Memerlukan Perhatian

Survei Status Gizi Indonesia 2024 mencatat prevalensi stunting nasional sebesar 19,8 persen, turun dari 21,5 persen pada 2023. Pemerintah menargetkan angka tersebut menjadi 14,2 persen pada 2029.

Penurunan angka nasional merupakan perkembangan baik, tetapi hampir satu dari lima balita masih tercatat mengalami stunting berdasarkan survei tersebut. Pencegahan tetap membutuhkan pelayanan kehamilan, pemenuhan gizi ibu dan anak, imunisasi, sanitasi, air bersih, penanganan infeksi, serta pemantauan pertumbuhan.

Pada saat yang sama, ketelitian diagnosis pada tingkat individu harus dijaga. Program penurunan stunting tidak seharusnya membuat seluruh anak pendek menerima label dan intervensi yang sama.

IDAI menerbitkan petunjuk diagnosis dan tata laksana stunting untuk dokter spesialis anak agar pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh serta mengurangi risiko diagnosis dan pengobatan yang berlebihan.

Posyandu dan puskesmas menjadi tempat pertama untuk mengukur pertumbuhan secara berkala. Anak yang ditemukan pendek dapat dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan apabila memiliki kecepatan tumbuh rendah, berat bermasalah, gangguan perkembangan, penyakit berulang, atau tinggi yang tidak sesuai dengan potensi keluarganya.

Orang tua perlu menyimpan catatan pengukuran, memastikan anak memperoleh makanan sesuai kebutuhan, melengkapi imunisasi, menjaga kebersihan, serta berkonsultasi ketika pertumbuhan melambat. Penanganan kemudian ditentukan berdasarkan penyebab, bukan hanya berdasarkan keinginan agar anak cepat terlihat lebih tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *