Seratus Ribu Warga Berdoa di Monas Menjelang Hari Kemerdekaan Langit Jakarta mulai gelap ketika warga berpakaian putih memenuhi kawasan Monumen Nasional pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Mereka datang dari berbagai daerah, membawa perlengkapan ibadah, duduk berkelompok di atas hamparan yang telah disiapkan, lalu menyatukan doa bagi Indonesia menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke 81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan menjadi pembuka rangkaian Bulan Kemerdekaan 2026. Pemerintah memilih Monas sebagai ruang pertemuan masyarakat dan para pemuka agama untuk menyampaikan rasa syukur atas kemerdekaan, memohon keselamatan bagi bangsa, serta menguatkan persaudaraan di tengah keberagaman Indonesia.
Kementerian Agama memperkirakan sekitar 100 ribu peserta hadir dalam kegiatan yang berlangsung sejak pukul 17.00 sampai 21.30 WIB. Warga tidak hanya berasal dari Jakarta dan daerah sekitarnya. Sejumlah rombongan menempuh perjalanan berjam jam agar dapat mengikuti doa bersama di pusat ibu kota.
Monas Berubah Menjadi Ruang Ibadah Bersama
Kawasan yang biasanya dipenuhi wisatawan berubah menjadi ruang pertemuan keagamaan berskala besar. Peserta duduk menghadap panggung, mengikuti rangkaian zikir, selawat, pembacaan ayat suci, lagu rohani, serta doa yang dipimpin bergantian oleh tokoh dari enam agama.
Pemerintah menempatkan kegiatan tersebut sebagai pembuka Bulan Kemerdekaan sebelum agenda kenegaraan lain digelar. Setelah doa kebangsaan, rangkaian dilanjutkan dengan penganugerahan tanda jasa, pidato kenegaraan, ziarah nasional, renungan suci, upacara Detik Detik Proklamasi, pesta rakyat, dan Merdeka Run.
Pemilihan doa sebagai acara pertama memberikan suasana yang berbeda dari perlombaan, konser, atau pesta rakyat. Bulan Kemerdekaan diawali dengan keheningan, rasa syukur, dan permohonan agar perjalanan negara tetap berada dalam jalan yang melindungi seluruh rakyat.
“Doa kebangsaan mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya perayaan tahunan. Ia juga menjadi waktu untuk memeriksa apakah kehidupan bernegara telah memberi keadilan, keamanan, dan kesejahteraan bagi masyarakat.”
Indonesia Raya Membuka Pertemuan Besar di Monas
Rangkaian acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ribuan peserta berdiri bersama, menjadikan lagu kebangsaan sebagai penghubung sebelum mereka menjalankan ibadah sesuai ajaran masing masing.
Setelah Indonesia Raya, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Quran dari Surah Ar Rahman. Susunan tersebut mempertemukan identitas kebangsaan dan kehidupan keagamaan tanpa menempatkan keduanya sebagai hal yang saling berlawanan.
Zikir dan selawat kemudian dipimpin bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Pemerintah sejak awal memasukkan selawat kebangsaan sebagai bagian utama acara, berdampingan dengan doa dari para pemuka agama lain.
Paduan suara dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik turut menyanyikan lagu rohani. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa panggung tersebut tidak dibangun untuk satu kelompok, melainkan sebagai ruang yang memberi tempat bagi beragam cara beribadah.
Enam Pemuka Agama Memanjatkan Doa Bergantian
Bagian penting kegiatan berada pada doa lintas agama yang dipimpin enam pemuka agama. Setiap tokoh menyampaikan doa sesuai ajaran dan tata ibadah keyakinannya, sementara peserta lain mengikuti dengan tenang dan saling menghormati.
Doa umat Islam dipimpin Husni Ismail. Umat Kristen diwakili Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty, sedangkan umat Katolik diwakili Romo Fransiskus Yance Sengga. Pinandita Gede Pastika memimpin doa umat Hindu, Bhikkhu Bhadranatha Thera mewakili umat Buddha, dan Budi S Tanuwibowo memimpin doa umat Konghucu.
Kehadiran enam pemuka agama memberikan gambaran mengenai Indonesia yang dibangun oleh masyarakat dengan keyakinan berbeda. Mereka tidak meleburkan ajaran agama menjadi satu bentuk, tetapi berdiri bersama dengan cara ibadah masing masing untuk memohon kebaikan bagi negara yang sama.
Kebersamaan tersebut juga memperlihatkan penghormatan dalam bentuk yang nyata. Peserta memberikan ruang ketika agama lain berdoa, mendengarkan dengan tertib, dan menjaga suasana tetap tenang sampai seluruh rangkaian selesai.
Peserta Datang dari Berbagai Wilayah
Kepadatan peserta sudah terlihat sejak sore. Rombongan dari sekolah, pesantren, majelis keagamaan, instansi pemerintah, serta komunitas masyarakat memasuki kawasan Monas melalui sejumlah pintu yang telah diatur petugas.
Salah satu rombongan datang dari Sukabumi, Jawa Barat. Sekitar 30 bus membawa kurang lebih 1.500 peserta dari wilayah tersebut. Seorang kepala madrasah mengaku menempuh perjalanan selama empat jam bersama para guru agar dapat mengikuti doa kebangsaan.
Perjalanan panjang itu memperlihatkan bahwa kegiatan tidak hanya menarik warga ibu kota. Bagi sebagian peserta, datang ke Monas merupakan bagian dari pengalaman kebangsaan karena mereka dapat beribadah bersama masyarakat dari latar belakang berbeda.
Istana Kepresidenan menyediakan sajadah dan perlengkapan ibadah sebagai suvenir. Peserta perempuan memperoleh mukena, sedangkan peserta laki laki menerima sarung. Perlengkapan itu sekaligus membantu warga yang datang dari tempat jauh dan mengikuti kegiatan sampai malam.
Doa Warga Menyentuh Pendidikan dan Korupsi
Harapan yang dibawa peserta tidak berhenti pada permohonan umum mengenai keselamatan negara. Warga menyebut sejumlah persoalan yang mereka lihat dalam kehidupan sehari hari, mulai dari pendidikan, pemerintahan, hingga pemberantasan korupsi.
Aliyah, seorang kepala madrasah dari Pelabuhan Ratu, berharap kualitas pendidikan serta lembaga pendidikan di Indonesia terus meningkat. Baginya, doa bagi bangsa juga berkaitan dengan mutu sekolah dan kemampuan negara memberikan pelayanan yang baik kepada anak anak.
Seorang santri berusia 17 tahun bernama Muhammad Rahman Hanafi menempatkan korupsi sebagai persoalan yang mendesak untuk diselesaikan. Rekannya juga menyampaikan harapan agar berbagai masalah dalam pemerintahan dan masyarakat dapat dibenahi selama perjalanan Indonesia setelah 81 tahun merdeka.
Suara para peserta membuat kegiatan di Monas tidak hanya berisi susunan seremonial. Di balik pakaian putih dan lantunan doa, terdapat kegelisahan warga mengenai sekolah, pemerintahan, penyalahgunaan kekuasaan, kesejahteraan, serta keamanan.
Kerukunan Disebut sebagai Modal Utama Bangsa
Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa Indonesia dipersatukan oleh kecintaan yang sama kepada negara meskipun masyarakatnya menjalankan keyakinan berbeda. Menurutnya, kekuatan bangsa tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan pembangunan fisik, tetapi juga akhlak, doa, dan hubungan yang damai antarsesama.
Ia menggambarkan zikir sebagai cara menumbuhkan hati, doa sebagai permohonan kepada Tuhan, serta kerja dan pengabdian sebagai usaha membangun kehidupan di bumi. Sekitar 100 ribu peserta dari berbagai agama disebut hadir dengan tujuan yang sama, yakni mendoakan Indonesia.
Pernyataan tersebut menempatkan doa dan kerja sebagai dua hal yang harus berjalan bersama. Permohonan kepada Tuhan tidak membebaskan pemerintah, pemimpin, maupun masyarakat dari kewajiban memperbaiki keadaan.
Kerukunan juga tidak cukup ditunjukkan melalui satu acara besar. Ia perlu terlihat ketika masyarakat menghadapi perbedaan pilihan politik, pembangunan rumah ibadah, kegiatan keagamaan, pelayanan administrasi, pendidikan, serta hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.
Indeks Kerukunan Mencapai Angka Tertinggi
Dalam kegiatan di Monas, Menteri Agama turut menyampaikan perkembangan Indeks Kerukunan Umat Beragama. Angkanya meningkat dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025. Nilai tersebut menjadi capaian tertinggi sejak pengukuran dimulai pada 2015.
Survei Kementerian Agama menilai kerukunan melalui hubungan yang toleran, kesetaraan dalam menjalankan agama, serta kebersamaan masyarakat dalam membangun bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.
Peningkatan angka dapat menjadi petunjuk bahwa hubungan antarumat bergerak ke arah yang lebih baik. Namun, nilai nasional tetap perlu dilihat bersama keadaan pada tingkat daerah karena pengalaman masyarakat dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lain.
Persoalan perizinan rumah ibadah, penolakan kegiatan keagamaan, ujaran kebencian, serta perlakuan tidak setara masih membutuhkan perhatian. Nilai survei tidak boleh membuat pemerintah merasa seluruh persoalan telah selesai.
“Kerukunan tidak hanya diukur ketika enam pemuka agama berdiri di panggung yang sama. Ujian terbesarnya muncul ketika kelompok yang berbeda harus berbagi ruang, hak, pelayanan, dan kesempatan secara adil.”
Ketua MPR Mengingatkan Pentingnya Persatuan
Ketua MPR Ahmad Muzani berharap zikir, doa, dan selawat yang dipanjatkan dapat menjaga Indonesia tetap utuh. Ia menempatkan persatuan sebagai kebutuhan utama dalam kehidupan negara yang terdiri atas ribuan pulau, ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, dan beragam agama.
Pesan tersebut menjadi penting menjelang Hari Kemerdekaan karena peringatan 17 Agustus selalu berkaitan dengan perjuangan kelompok yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama. Kemerdekaan tidak diperoleh oleh satu golongan, daerah, atau agama.
Persatuan dalam kehidupan demokratis bukan berarti seluruh warga harus mempunyai pendapat yang sama. Perbedaan pilihan tetap dapat hadir, tetapi tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mencabut hak, menyebarkan kebencian, atau memperlakukan kelompok lain sebagai musuh.
Doa bersama di Monas memberi contoh bahwa perbedaan dapat dikelola tanpa menghapus identitas setiap pihak. Pemuka agama tetap menggunakan ajaran dan tata ibadahnya, sementara negara menyediakan ruang yang sama bagi seluruhnya.
Tema Kemerdekaan Membawa Tuntutan Besar
Peringatan HUT ke 81 RI mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Pemerintah menyatakan tema itu menggambarkan cita cita mengenai kemandirian negara, pemerataan keadilan, serta kesejahteraan masyarakat.
Kata berdaulat berkaitan dengan kemampuan Indonesia menentukan arah kebijakannya sendiri dan menjaga kepentingan rakyat. Keadilan menuntut pelayanan serta perlindungan yang tidak dibedakan berdasarkan kekayaan, daerah, agama, suku, atau kedudukan.
Kemakmuran tidak cukup terlihat melalui angka pertumbuhan ekonomi. Masyarakat menilainya melalui harga pangan, pekerjaan, penghasilan, kualitas sekolah, layanan kesehatan, rumah yang layak, serta rasa aman ketika menjalani kehidupan.
Doa yang dipanjatkan menjelang Hari Kemerdekaan karena itu membawa tuntutan kepada penyelenggara negara. Rakyat memohon negeri yang baik, tetapi pemerintah tetap harus menjawabnya melalui kebijakan, anggaran, pelayanan, dan penegakan hukum.
Pengamanan Melibatkan Ribuan Personel
Besarnya jumlah peserta membuat pengamanan dan pengaturan kawasan Monas membutuhkan persiapan khusus. Polda Metro Jaya mengerahkan 3.269 personel gabungan yang ditempatkan pada pintu masuk, area kegiatan, jalur lalu lintas, serta titik penting di sekitar Monas.
Petugas diminta mengedepankan pelayanan kepada masyarakat. Mereka mengatur arus peserta, memeriksa barang bawaan, membantu warga menemukan jalur masuk, serta menjaga agar acara berlangsung tertib.
Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyiapkan 19 lokasi parkir untuk kendaraan peserta. Penyediaan kantong parkir diperlukan agar bus dan kendaraan pribadi tidak memenuhi jalan utama di sekitar kawasan kegiatan.
Panitia sebelumnya mengimbau peserta memakai pakaian putih, membawa perlengkapan ibadah secukupnya, serta tidak membawa barang berbahaya. Warga juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan karena kegiatan berlangsung selama beberapa jam dan dihadiri peserta dalam jumlah besar.
Tradisi Doa Mengawali Bulan Kemerdekaan
Zikir dan doa kebangsaan telah beberapa kali digunakan untuk membuka rangkaian peringatan kemerdekaan. Pada tahun sebelumnya, kegiatan serupa diselenggarakan di tempat yang berkaitan dengan perjalanan perjuangan bangsa, termasuk Istana Merdeka dan Tugu Proklamasi.
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa negara tidak hanya memperingati kemerdekaan melalui upacara militer dan pesta. Ada ruang untuk mengenang pengorbanan para pejuang melalui perenungan serta doa.
Masyarakat Indonesia juga mengenal malam tirakatan yang biasanya digelar di kampung dan lingkungan tempat tinggal menjelang 17 Agustus. Warga berkumpul, mendoakan pahlawan, menyampaikan rasa syukur, makan bersama, dan membicarakan keadaan lingkungan.
Acara besar di Monas mempunyai bentuk berbeda, tetapi membawa semangat yang serupa. Warga berkumpul bukan sebagai penonton pertunjukan, melainkan sebagai peserta yang ikut menyampaikan harapan bagi negara.
Doa Perlu Menjadi Pengingat bagi Pemegang Kekuasaan
Seratus ribu orang yang berdoa di Monas membawa persoalan yang tidak selalu terlihat dari panggung. Ada guru yang memikirkan kualitas pendidikan, santri yang resah terhadap korupsi, orang tua yang menginginkan pekerjaan bagi anaknya, serta warga yang berharap mendapat pelayanan tanpa perlakuan berbeda.
Harapan tersebut perlu didengar sebagai pesan publik. Ketika masyarakat memohon keadilan, pejabat perlu memastikan hukum tidak tajam kepada kelompok lemah dan lunak kepada mereka yang mempunyai kekuasaan.
Ketika masyarakat berdoa untuk kemakmuran, pemerintah perlu memeriksa apakah pertumbuhan ekonomi telah dirasakan pekerja, petani, nelayan, pedagang kecil, penyandang disabilitas, dan keluarga yang tinggal jauh dari pusat kota.
Ketika pemuka agama memohon persatuan, tokoh politik perlu menahan diri dari penggunaan isu suku dan agama untuk memperoleh dukungan. Persatuan akan sulit dirawat apabila perbedaan terus dipakai sebagai alat persaingan.
Generasi Muda Hadir Membawa Harapan Sendiri
Kehadiran pelajar dan santri memberi warna penting dalam kegiatan tersebut. Mereka merupakan generasi yang tidak mengalami masa penjajahan, tetapi hidup dengan persoalan baru seperti persaingan kerja, biaya pendidikan, perkembangan teknologi, perubahan lingkungan, dan derasnya informasi.
Pemahaman mengenai kemerdekaan bagi generasi muda tidak cukup dibangun melalui hafalan tanggal dan nama pahlawan. Mereka perlu memperoleh ruang untuk menyampaikan pendapat, ikut menyusun kegiatan, mengawasi kebijakan, serta berkontribusi di lingkungan.
Kritik santri mengenai korupsi menunjukkan bahwa anak muda tidak datang hanya untuk mengikuti acara. Mereka mempunyai penilaian sendiri terhadap keadaan negara dan berani menyampaikan persoalan yang dianggap paling berat.
Kegiatan kebangsaan akan lebih kuat apabila suara semacam itu tidak berhenti sebagai kutipan. Sekolah, pesantren, organisasi pemuda, dan pemerintah dapat meneruskannya melalui pendidikan antikorupsi, kegiatan sosial, pengawasan anggaran, serta ruang diskusi yang terbuka.
Dari Monas Menuju Perayaan di Seluruh Indonesia
Setelah doa kebangsaan, perayaan HUT RI akan bergerak ke berbagai kota, desa, sekolah, kantor, dan lingkungan warga. Bendera Merah Putih mulai dipasang, perlombaan disiapkan, panggung hiburan dibangun, dan upacara direncanakan.
Puncak peringatan akan berlangsung pada Senin, 17 Agustus 2026 melalui Upacara Detik Detik Proklamasi dan penurunan bendera di Istana Merdeka. Pemerintah menyiapkan lebih dari 8.100 undangan serta membuka kesempatan bagi masyarakat mengikuti upacara melalui mekanisme pemesanan tiket.
Monas juga akan menjadi pusat pesta rakyat dari pagi sampai malam. Pemerintah merencanakan perlombaan, wahana anak, panggung hiburan, pertunjukan drone, pemetaan video, wayang, kembang api, serta pembagian makanan kepada masyarakat.
Di antara kemeriahan tersebut, doa pada malam pertama Agustus menjadi pengingat awal. Kemerdekaan dirayakan dengan kegembiraan, tetapi juga perlu dijaga melalui persaudaraan, tanggung jawab, serta keberanian memperbaiki persoalan yang masih dirasakan rakyat.
Ketika peserta meninggalkan Monas dan kembali ke daerah masing masing, tugas menjaga Indonesia kembali berada dalam kehidupan sehari hari. Ia hadir dalam cara warga menghormati tetangga yang berbeda agama, cara pejabat menggunakan kewenangan, cara guru mendidik murid, serta cara masyarakat menolak kebencian dan ketidakadilan.
