Gaun Pengantin Emma Roberts Bergaya Boneka Antik, Dibuat 1.000 Jam Emma Roberts resmi menikah dengan aktor Cody John dalam upacara yang digelar di sebuah kediaman pribadi di Idaho, Amerika Serikat, pada Sabtu, 25 Juli 2026. Di tengah perhatian terhadap daftar tamu dari kalangan Hollywood, gaun pengantin sang aktris menjadi bagian yang paling banyak dibicarakan. Roberts memilih rancangan khusus Monique Lhuillier dengan warna menyerupai kain lama yang terkena noda teh, siluet lembut, serta detail renda yang mengingatkan pada busana boneka antik.
Gaun itu bukan dibuat sebagai busana pengantin putih yang bersih dan berkilau. Roberts sejak awal menginginkan pakaian dengan kesan telah tersimpan selama puluhan tahun di dalam peti keluarga. Ketertarikannya pada buku antik, barang temuan lama, boneka, pakaian vintage, dan kertas bersejarah menjadi dasar rancangan yang dikerjakan selama sembilan bulan tersebut.
Pernikahan Intim Digelar di Idaho
Emma Roberts dan Cody John memilih Idaho sebagai lokasi pernikahan setelah menjalani hubungan yang relatif tertutup dari sorotan media. Upacara berlangsung di luar ruangan dalam suasana musim panas, dengan keluarga dan sahabat dekat berkumpul di sebuah kediaman pribadi. Pemandangan alam di sekitar lokasi mendukung pilihan busana yang terasa ringan, romantis, dan tidak terlalu resmi.
Roberts dan John mulai berpacaran pada musim panas 2022 setelah diperkenalkan oleh teman bersama. Hubungan mereka mulai diketahui publik pada Agustus tahun yang sama. Keduanya kemudian mengumumkan pertunangan pada Juli 2024 melalui unggahan media sosial Roberts. Pernikahan pada Juli 2026 menandai sekitar empat tahun kebersamaan mereka.
John dikenal sebagai aktor yang pernah tampil dalam serial seperti In the Dark dan Wu Tang: An American Saga. Berbeda dari Roberts yang telah bekerja di industri hiburan sejak usia muda, John cenderung menjaga kehidupan pribadinya dan tidak sering memberikan pernyataan mengenai hubungan mereka.
Dalam pernikahan tersebut, John mengenakan setelan bernuansa cokelat yang menjaga suasana hangat dari keseluruhan acara. Pilihan warnanya terlihat selaras dengan gaun Roberts yang tidak menggunakan putih terang, melainkan warna gading dengan sentuhan merah muda dan cokelat lembut.
Emma Roberts Tidak Menginginkan Gaun Putih Bersih
Proses pencarian gaun dimulai tanpa gambaran potongan yang benar benar pasti. Roberts hanya mengetahui bahwa busananya harus mempunyai kesan vintage. Ia tidak tertarik memakai warna putih murni karena menganggap warna tersebut terlalu baru dan kurang mewakili ketertarikannya terhadap benda lama.
Perhatian Roberts justru tertuju pada warna kain. Ia menginginkan permukaan yang tampak seolah mengalami proses penuaan alami. Monique Lhuillier kemudian mengembangkan warna khusus dengan memadukan rona merah muda lembut dan ecru. Warna itu diberi nama Vintage Rose, berkaitan dengan nama tengah Roberts, yaitu Rose.
Hasil akhirnya menyerupai warna kain yang pernah direndam dalam teh. Nuansa tersebut membuat gaun tampak lebih hangat dibandingkan busana pengantin putih konvensional. Di bawah cahaya alami, warna merah mudanya terlihat sangat tipis, sementara pada bagian yang tertutup lapisan kain, rona gading tampak lebih kuat.
Roberts menggambarkan penampilan yang diinginkannya sebagai “boneka hantu antik”. Pilihan kata itu terdengar tidak biasa untuk sebuah pernikahan, tetapi menjelaskan arah desain secara tepat. Ia ingin terlihat lembut, sedikit misterius, romantis, dan seolah berasal dari masa yang berbeda.
“Pilihan warna Vintage Rose membuat gaun tersebut terasa pribadi. Roberts tidak sekadar mengikuti aturan busana pengantin, tetapi membawa kegemarannya terhadap benda lama ke dalam rancangan couture.”
Monique Lhuillier Menggunakan 25 Yard Sutra Sifon
Monique Lhuillier memilih sutra sifon sebagai bahan utama karena kain tersebut dapat menghasilkan gerakan lembut saat Roberts berjalan. Sekitar 25 yard atau lebih dari 22 meter kain digunakan untuk membentuk gaun, termasuk lapisan rok, bagian yang menjuntai, selendang, dan elemen yang dapat dilepas.
Kain sifon disusun di atas korset dengan konstruksi tulang penyangga. Bagian korset tidak sepenuhnya disembunyikan. Struktur di bawah kain masih dapat terlihat secara samar, sehingga memberi pertemuan antara pakaian dalam bergaya lama dan gaun pengantin modern.
Potongan tubuh dibuat mengikuti bentuk Roberts tanpa terasa terlalu kaku. Roknya memiliki beberapa lapisan dengan belahan tinggi pada salah satu sisi. Belahan itu memberi ruang bagi kaki ketika berjalan, sekaligus mencegah gaun terlihat terlalu tertutup setelah bagian atasnya dihiasi renda dan selendang.
Lhuillier juga menambahkan susunan kain di bagian belakang untuk menghasilkan ekor panjang. Ketika Roberts berpindah menuju acara resepsi, bagian tersebut dapat ditata kembali melalui sistem pengikat yang dikembangkan khusus. Perancang membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk menemukan cara agar susunan belakang dapat dinaikkan tanpa merusak bentuk rok.
Selendang Asimetris Memberi Lima Pilihan Penampilan
Bagian atas gaun dilengkapi selendang lepas pasang yang dihiasi renda Prancis berwarna ecru. Selendang itu melewati salah satu bahu dan membentuk garis leher asimetris. Pilihan tersebut membuat penampilan Roberts berbeda dari gaun bertali tipis atau model tanpa tali yang lebih umum digunakan.
Ketika selendang dilepas, garis leher tanpa tali langsung terlihat. Roberts dapat mengubah gaun dari busana upacara yang lebih tertutup menjadi pakaian resepsi yang ringan tanpa harus berganti seluruh busana.
Monique Lhuillier menyebut satu gaun utama tersebut dapat dipakai dalam lima tampilan. Perubahan dilakukan melalui pelepasan selendang, penataan ekor, pemindahan lapisan tertentu, dan pengaturan aksesori kepala. Sistem ini dirancang agar pakaian terus berubah mengikuti tahapan acara.
Kemampuan berubah menjadi bagian penting karena Roberts ingin bergerak bebas saat makan, berbincang, dan menari. Gaun couture dengan ekor panjang sering terlihat indah saat upacara, tetapi dapat menyulitkan pengantin ketika memasuki ruangan yang lebih padat. Lhuillier mengatasi persoalan itu tanpa menghilangkan unsur utama dari rancangan.
Pengerjaan Berlangsung Selama Sembilan Bulan
Gaun pengantin Roberts membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan dan hampir 1.000 jam kerja. Prosesnya meliputi pengembangan warna, pembuatan korset, penyusunan sifon, pemasangan renda, penyesuaian selendang, pembuatan ekor, serta beberapa kali pengepasan.
Setiap lapisan harus disusun agar kain tetap terlihat ringan meskipun jumlahnya cukup banyak. Penjahit juga perlu memastikan belahan rok tidak bergeser ketika Roberts bergerak. Renda pada selendang harus mengikuti garis bahu tanpa membuat bahan sifon tertarik atau mengerut.
Pengerjaan panjang tersebut memperlihatkan perbedaan antara busana khusus dan gaun yang diambil langsung dari koleksi siap pakai. Lhuillier mengembangkan warna yang hanya digunakan untuk Roberts, sementara ukuran setiap bagian dibuat mengikuti tubuhnya.
Roberts menjalani pengepasan terakhir sekitar satu pekan sebelum pernikahan. Ia didampingi ibunya, Kelly Cunningham, saudarinya Grace Nickels, para sepupu, sahabat, serta dua penata gaya yang juga menjadi pengiring pengantin, Brit dan Kara Elkin.
Suasana pengepasan berubah emosional ketika Roberts keluar dengan tampilan lengkap. Sejumlah anggota keluarga dan sahabat menangis, termasuk sang ibu. Orang terdekat Roberts menilai bentuk dan warnanya benar benar menggambarkan kegemaran sang aktris terhadap boneka serta benda antik.
Dua Jenis Penutup Kepala Melengkapi Gaun
Monique Lhuillier menyediakan dua pilihan penutup kepala untuk Roberts. Pilihan pertama berupa kerudung panjang bergaya kapel yang dibuat dari tulle sutra dan diwarnai menggunakan rona yang sama dengan gaun.
Kerudung tersebut memperpanjang garis gaun ketika Roberts berjalan menuju tempat upacara. Kainnya dibuat sangat tipis agar tekstur rambut dan bentuk bahu masih dapat terlihat. Warna Vintage Rose menjaga kerudung tidak tampak terlalu terang dibandingkan permukaan gaun.
Pilihan kedua berupa voilette renda kecil yang menutupi bagian mata. Bentuknya terinspirasi aksesori pengantin Hollywood lama. Setelah upacara, voilette dapat didorong ke atas dan dipakai menyerupai pita renda pada kepala.
Kehadiran voilette memperkuat gambaran boneka antik yang diinginkan Roberts. Aksesori tersebut memberi kesan misterius tanpa menutupi seluruh wajah, berbeda dari kerudung panjang yang lebih dekat dengan tradisi busana pengantin.
Gaya Boneka Antik Berasal dari Koleksi Pribadi Emma
Ketertarikan Roberts pada benda vintage bukan dibuat khusus untuk kebutuhan pernikahan. Ia dikenal gemar mengoleksi buku lama, kertas cetak, furnitur, pakaian, dan berbagai benda kecil yang ditemukan saat berburu barang antik.
Kebiasaan tersebut menjadi sumber bagi papan inspirasi yang disusun bersama Brit dan Kara Elkin. Mereka tidak hanya melihat gaun pengantin dari musim terbaru, tetapi juga memperhatikan tekstur renda tua, warna halaman buku, pakaian tidur bergaya lama, boneka, dan busana dari awal 2000 an.
Roberts ingin gaunnya terasa dapat berasal dari seratus tahun lalu, tetapi tetap nyaman dipakai pada 2026. Monique Lhuillier kemudian menerjemahkan keinginan tersebut melalui konstruksi modern yang dibungkus tampilan lama.
Pendekatan ini membuat unsur antik tidak tampil seperti kostum film. Gaun tetap mempunyai proporsi bersih, belahan rok, korset transparan, dan sistem lepas pasang yang sesuai dengan kebutuhan acara modern.
“Rancangan ini berhasil karena unsur boneka antik tidak diterapkan secara harfiah. Kesan lama muncul melalui warna, tekstur, dan susunan kain, bukan melalui ornamen yang berlebihan.”
Gaun Kedua Berwarna Hitam dari Arsip 2004
Setelah memakai warna Vintage Rose untuk upacara dan resepsi awal, Roberts memilih busana hitam untuk pesta lanjutan. Pilihan itu kembali dikerjakan bersama Monique Lhuillier, tetapi tidak dibuat sepenuhnya dari awal.
Busana kedua berasal dari arsip koleksi musim gugur 2004 sang perancang. Tampilannya terdiri atas atasan korset hitam dari renda Chantilly dan rok panjang sedang yang dibuat menggunakan potongan potongan sutra organza.
Setiap potongan organza disusun untuk menghasilkan tekstur bergerak ketika Roberts berputar atau menari. Pinggiran kain dibiarkan memiliki kesan sedikit tidak rapi, sehingga tampilan keseluruhan terasa lebih berani dibandingkan gaun utama.
Roberts menyukai busana hitam karena memberikan kejutan setelah penampilan pengantin yang lembut. Warna tersebut juga memperlihatkan sisi berbeda dari ketertarikannya pada pakaian lama. Apabila gaun utama mengarah pada boneka antik dan peri, pakaian kedua mendekati suasana kabaret lama serta pesta di kota pegunungan.
Busana itu dibuat dalam bentuk dua potong. Korset dan rok dapat dipakai kembali secara terpisah setelah pernikahan. Keputusan tersebut membuat pakaian arsip tidak hanya berfungsi sebagai kostum satu malam, tetapi dapat kembali digunakan dalam kesempatan lain.
Daftar Tamu Dipenuhi Keluarga dan Bintang Hollywood
Pernikahan Roberts dan John dihadiri oleh keluarga serta sejumlah nama besar Hollywood. Bibi Roberts, Julia Roberts, datang bersama suaminya, sinematografer Danny Moder. Kehadiran Julia mendapat perhatian karena hubungan dekat keduanya telah terlihat dalam berbagai acara keluarga dan kegiatan industri hiburan.
Tamu lain yang terlihat antara lain Demi Moore, Sarah Paulson, Kristen Stewart, Dylan Meyer, Ashley Benson, dan Brandon Davis. Daftar tersebut menunjukkan bahwa acara intim itu tetap dihadiri lingkaran pertemanan yang dikenal luas oleh publik.
Kristen Stewart bahkan menjadi bahan pembicaraan karena mengenakan kemeja putih. Namun, pakaian bergaya setelan pria yang dipadukan dengan dasi dan celana berwarna netral membuat penampilannya tidak menyerupai gaun pengantin.
Roberts sendiri menjadi pihak yang paling jelas meninggalkan aturan putih tradisional. Warna Vintage Rose, voilette renda, selendang asimetris, dan busana pesta hitam memperlihatkan bahwa seluruh pilihan pakaiannya dibentuk berdasarkan selera pribadi.
Monique Lhuillier Memadukan Arsip dan Rancangan Baru
Kerja sama Emma Roberts dan Monique Lhuillier menghasilkan dua pendekatan yang berbeda. Gaun utama dibangun dari awal melalui ratusan jam pengerjaan, sedangkan busana pesta mengambil rancangan lama yang telah tersimpan lebih dari dua dekade.
Keduanya tetap terhubung melalui penggunaan korset, renda, warna yang tidak biasa, serta perhatian pada gerakan kain. Gaun pertama memakai sutra sifon berwarna lembut, sementara busana kedua menggunakan renda hitam dan organza yang lebih tegas.
Pilihan koleksi 2004 juga berhubungan dengan kegemaran Roberts terhadap mode awal 2000 an. Periode tersebut kini kembali mendapat perhatian, tetapi Roberts tidak sekadar meniru tampilan yang sedang populer. Ia mengambil pakaian asli dari arsip perancang yang membuatnya saat itu.
Gaun Vintage Rose kemudian menjadi pusat dari seluruh rangkaian tersebut. Warna seperti noda teh, selendang renda, korset yang terlihat samar, belahan rok, kerudung panjang, dan voilette kecil membuat keinginan Roberts tampil seperti boneka antik hadir tanpa menghilangkan karakter busana pengantin modern.
