• Kontak Kami
  • Hotline : 083811131344
  • SMS : 083811131344
  • BBM : 5C58CBCC

Kontak Kami

( pcs) Checkout

Beranda » Artikel Terbaru » Lemak Trans:Biang Keladi Serangan Jantung yang Sulit Dihindari

Lemak Trans:Biang Keladi Serangan Jantung yang Sulit Dihindari

Diposting pada 30 Mei 2016 oleh khanza

Lemak trans disinyalir sebagai lemak paling jahat dari semua jenis lemak. Padahal lemak ‘nakal’ ini ada di hampir sebagian besar makanan kemasan dan fast food.

Selama ini industri makanan enggan mencantumkan kandungan lemak trans, apalagi menyingkirkannya karena lemak ini membuat makanan terasa gurih dan renyah. Namun, sejak Food and Drug Administration (FDA), Amerika Serikat, mengharamkan penggunaan lemak trans pada tahun 2006, restoran- restoran cepat saji internasional berlomba-lomba mengklaim bahwa makanan mereka bebas dari lemak trans. Seperti apa sih bahaya lemak trans bila dikonsumsi?

Efek buruk ganda

Lemak Trans (3)

Untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, para ahli kesehatan menganjurkan untuk mengurangi konsumsi lemak. Selama ini lemak jenuh – yang terdapat dalam lemak hewani seperti mentega – dianggap sebagai tersangka utama pemicu serangan jantung dan stroke karena dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Ternyata ada provokator penyakit jantung yang efeknya lebih parah daripada lemak jenuh, namanya: lemak trans.

Lemak trans (trans fat) dianggap sebagai lemak yang paling jahat di antara semua jenis lemak. Klaim buruk ini disebabkan lemak trans memiliki efek buruk ganda bagi kesehatan jantung yaitu dapat meningkatkan kadar kolesterol lDL(lowdensitylipoprotein)sekaligus menurunkan kadar kolesterol HDL (high density lipoprotein).

LDL sering disebut sebagai kolesterol ‘jahat’ karena kadar LDL yang tinggi dalam darah akan membentuk plak yang kemudian menumpuk di dalam pembuluh darah. Kondisi ini disebut aterosklerosis. Sumbatan plak ini akan menghambat peredaran darah sehingga dapat menyebabkan serangan jantung. Sedangkan HDL lebih dikenal sebagai kolesterol ‘baik’ karena kadar HDL yang tinggi dalam darah akan melindungi dari serangan jantung. Hal ini berkaitan dengan kemampuan HDL dalam mengangkut kolesterol yang berlebihan dalam pembuluh darah menuju hati sehingga dapat mencegah timbulnya serangan jantung. Nah, lemak trans justru menurunkan kadar HDL yang notbene bersahabat dengan jantung.

Menurut Prof Dr Ali Khomsan. Ahli gizi dan guru besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, lemak trans terbentuk dari penambahan hidrogen pada minyak nabati melalui proses hidrogenasi parsial. Normalnya minyak bentuknya cair dan memiliki ikatan rantai asam lemak  tidak jenuh. Melalui proses hidrogenasi dengan penambakan ion hidrogen, ikatan asam lemak yang awalnya tak tenuh ini berubah menjadi jenuh sehingga membuat minyak nabati menjadi lebih padat sehingga tidak mudah rusak.Contohnya pada proses pembuatan margarin. Namun proses perubahan dari cairan minyak menjadi lemak padat akan mengubah lemak nabati yang tadinya lemak tak jenuh menjadi lemak trans.

Makanan yang diolah dengan minyak nabati yang terhidrogenasi akan menjadi lebih tahan lama, teksturnya lebih baik, lebih renyah dan gurih, serta tidak terlalu terasa berminyak. Industri makanan gemar menggunakan lemak trans gemar produksi makanan karena mudah digunakan, harganya tidak mahal dan lebih awet.Sedangkan restoran-restoran, terutama fast food, menggunakan lemak trans untuk menggoreng karena minyak yang mengandung lemak trans bisa digunakan berulang kali.

Selain dalam margarin, lemak trans juga terdapat date shortening (mentega putih atau lemak putih), fast food seperti ayam goreng (fried chicken), kentang goreng (french friesh), adonan pizza, donat, keripik kentang, kraker, biskuit, kue Karang (cookies), permen, dan cake. Lemak trans secara alami juga ada dalam jumlah sedikit dalam daging dan susu sapi. Tapi lemak  trans dalam makanan yang dproses efeknya lebih berbahaya bagi kesehatan. Padahal sebagian besar lemak trans yang kita konsumsi saat ini justru berasal dari makanan yang diproses

Dulunya dianggap sehat

Awalnya lemak trans dianggap lebih sehat daripada lemak hewani karena berasal dari bahan nabati dan bersifat tidak Jenuh. Bahkan pada tahun 1960-an, Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya mengganti mentega, minyak hewani, maupun minyak nabati yang berlemak jenuh dengan margarin yang mengandung lemak trans, dengan alasan lebih sehat dan nonkoiesterol.

Salah satu institusi di Amerika Serikat yang sejak tahun 1970-an hingga kini paling gigih meneliti bahaya lemak trans adalah Harvard School of Public Health (HSPH). Barulah pada tahun 1990, para peneliti mengakui bahwa lemak trans ternyata juga berefek merugikan terhadap kesehatan jantung. Tahun 1994, Prof Walter Wiltet, ketua Departemen Gizi HSPH, bersama Dr Alberto Ascherio, epidemiolog HSPH, menyatakan dalam American Journal of Public Health bahwa lemak trans lebih merusak kesehatan jantung dibandingkan lemak jenuh, dan bertanggungjawab terhadap 30.000 kematian setiap tahun di Amerika Serikat.

Bahayanya tak cuma untuk jantung

 

Lemak Trans (2)

Konsumsi lemak trans tak hanya berefek negatif bagi keaehajJ antung dan pembuluh darah, tapi juga bisa meningkatkan risiko muncufn >enyakit kronis lainnya.

  • Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archive of Neurology edisi Februari 2003 menyatakan bahwa asupan lemak trans dan lemak jenuh akan meningkatkan perkembangan penyakit Alzheimer
  • Obesitas dan diabetes. Konsumsi lemak trans dapat meningkatkan berat badan dan jumlah lemak di perut. Kondisi ini bila tidak cepat ditangani akan berakibat pada peningkatan risiko diabetes tipe 2.
  • Penelitian tahun 2007 yang dimuat dalam American Joumi of Clinical Nutrition, membuktikan bahwa setiap kenaikan 2 persen asupan kalori dari lemak trans akan meningkatkan risiko infertilitas hingga 73 persen.
  • American Cancer Society menyatakan bahwa hubungan antara lemak trans dan perkembangan kanker belum terbukti secara pasti. Namun, hasil penelitian dari European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi lemak trans akan meningkatkan risiko kanker payudara hingga 75 persen

Perang melawan lemak trans

Sejak 1 Januari 2006, FDA mewajibkan semua produk makanan kemasan mencantumkan kandungan lemak trans dalam label makanan. Dengan pencantuman kandungan lemak trans di samping kadar lemak jenuh dan kolesterol, diharapkan konsumen bisa lebih waspada dan seleksi memilih makanan serta bisa membantu mencegah penyakit jantung akibat konsumsi lemak trans.

Sayangnya di Indonesia masalah seputar lemak trans ini belum dianggap penting. “Pencantuman kandungan lemak trans dalam makanan kemasan belum direalisasikan di Indonesia. Peraturan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI hanya mewajibkan pencantuman kandungan karbohidrat, protein, lemak, beberapa vitamin dan mineral yang dianggai penting di dalam label makanan kemasan,” ujar Prof Ali Khomsan.

American Heart Association merekomendasikan batasan konsumsi lemak trans kurang dari 1 persen total kalori harian. Misalnya jika anda membutuhkan 2000 kalori dalam sehari, tidak lebih dari 20 kalori berasa dari lemak trans. Artinya dalam sehari hanya boleh mengkonsumsi 2 gran lemak trans. Itu tandanya makanan yang diproses dengan margarin 1 shortening harus benar-benar dicoret dari daftar menu .

Cerdas memilih lemak

Karena aturan pencantuman kandungan lemak trans dalam label makanan kemasan di Indonesia belum diberlakukan, kita sebagai konsumen sebaiknya waspada dalam memilih makanan. Terutama makanan kemasan yang tinggi kandungan lemaknya. Pastikan untuk mengecek dengan teliti label kandungan gizi dan daftar komposisi bahan (ingredients) dari makanan kemasan sebelum membelinya.

Kandungan lemak trans bisa Anda kenali dari tulisan di label makanan “partially hydrogenated oil”alias minyak terhidrogenasi parsial dalam komposisi bahan. Menurut Prof Ali Khomsan, semua minyak yang mengalami proses hidrogenasi parsial akan berubah menjadi lemak trans. Jadi apa pun jenis minyaknya – apakah minyak kelapa ataupun minyak kelapa sawit – asalkan telah dihidrogenasi pasti akan mengandung lemak trans. Adanya shortening dalam komposisi makanan juga menunjukkan bahwa produk tersebut mengandung lemak trans.

Untuk lemak jenuh (saturated fat) dan kolesterol, pilih makanan yang kandungan lemaknya 5 persen atau kurang. Jika pada produk tersebut kandungan lemak lebih dari 20 persen untuk lemak jenuh dan kolesterol, itu artinya kandungan lemaknya tinggi. Tak hanya produk hewani yang mengandung lemak jenuh, minyak nabati seperti minyak kelapa dan minyak sawit juga mengandung lemak jenuh. Hindari juga makanan kolesterol tinggi seperti otak dan kuning telur.

Gunakan minyak yang bersifat tidak jenuh (unsaturated fat), terutama monounsaturated fat (MUFA) dan polyunsaturated fat (PUFA). Kedua jenis lemak ini bermanfaat menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol ‘jahat’ LDL.

Bagikan informasi tentang Lemak Trans:Biang Keladi Serangan Jantung yang Sulit Dihindari kepada teman atau kerabat Anda.

Lemak Trans:Biang Keladi Serangan Jantung yang Sulit Dihindari | Caca.co.id

Komentar dinonaktifkan: Lemak Trans:Biang Keladi Serangan Jantung yang Sulit Dihindari

Maaf, form komentar dinonaktifkan.

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
SIDEBAR