• Kontak Kami
  • Hotline : 083811131344
  • SMS : 083811131344
  • BBM : 5C58CBCC

Kontak Kami

( pcs) Checkout

Beranda » Artikel Terbaru » JAMU PELANGSING AMANKAH?

JAMU PELANGSING AMANKAH?

Diposting pada 19 Mei 2016 oleh khanza

Jamu Pelangsing – Penimbunan lemak yang berlebihan pada berbagai bagian tubuh, misal di pinggang, perut, pinggul atau lengan atas menyebabkan penampilan jadi kurang serasi. Ini dapat mengurangi rasa percaya diri, terutama pada wanita dan remaja. Di samping itu kegemukan telah disinyalir sebagai pemicu berbagai penyakit degeneratif, seperti kencing manis, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung koroner (Dewoto H.R.). Tidak heran jika kegemukan selalu ingin dihindari, atau jika sudah telanjur terjadi, diupayakan untuk dikurangi.

Ada beberapa faktor penyebab kegemukan, antara lain faktor kejiwaan, sosial budaya (kebiasaan makan enak), keturunan, gangguan metabolisme dan gangguan hormon. Salah satu faktor atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut bisa mengakibatkan kelebihan kalori yang menetap sehingga terjadi penimbunan lemak tubuh yang berlebihan (Dewoto H.R.).

Mengatasi kegemukan

JAMU PELANGSING AMANKAH (4) jamu pelangsing

Berbagai cara yang dilakukan untuk mengurangi kelebihan berat badan pada Intinya mengupayakan agar jumlah kalori yang masuk tidak melebih) kebutuhan tubuh. Cara yang paling umum untuk mengurangi kalori adalah dengan meningkatkan olahraga atau dengan mengurangi asupan kalori dari makanan .Kedua cara ini termasuk yang paling aman, walaupun pelaksanaannya tidaklah mudah, karena memerlukan kemauan dan disiplin diri yang kuat. Diperlukan perubahan perilaku, yaitu berlatih dengan teratur meskipun waktu sempit atau sedang diserang rasa malas, serta menahan diri untuk tidak makan apa saja yang dianggap enak.

Namun jika kegemukan disebabkan oleh gangguan kesehatan, seperti gangguan metabolisme atau gangguan hormonal, maka mungkin diperlukan obat- obatan untuk menyembuhkannya. Untuk mengatasi masalah ini mungkin seseorang perlu obat yang dapat mengerem penyerapan sari makanan ke dalam tubuh. Berkurangnya sari makanan yang terserap dengan sendirinya akan mengurangi kemungkinan kegemukan. Dalam hal ini ramuan obat tradisional bisa menjadi salah satu pilihan.

Berdasarkan mekanisme kerjanya dikenai empat jenis ramuan tradisional (Widowati L, 1996):

Obat tradisional yang bersifat mencahar.

Karena mengandung bahan yang bersifat mencahar, terjadilah pengurangan kesempatan penyerapan sari makanan, termasuk zat lemak.

Obat tradisional yang mengandung zat samak.

Dalam hai ini lapisan mukosa (selaput lendir) saluran pencernaan yang menggumpal karena zat samak akan menghambat penyerapan sari makanan, termasuk zat lemak.

Obat tradisional yang bersifat peluruh air seni

Mengandung bahan yang bersifat diuretik, yaitu memperbanyak pengeluaran

Obat tradisional yang bersifat melicinkan.

Mengandung bahan yang berlendir untuk memperlancar pengeluaran bahan makanan.

Memilih yang sesuai

Keempat bahan ramuan obat alam yang disebutkan tadi ternyata tidak lepas dari kelebihan dan kekurangannya.

JAMU PELANGSING AMANKAH (1) jamu pelangsing

Ramuan obat alam yang mengandung bahan pencahar (laksansia) menyebabkan makanan yang dikonsumsi memiliki waktu yang sangat singkat di dalam saluran pencernaan. Begitu makanan memasuki saluran pencernaan, usus akan bereaksi dengan melakukan gerakan peristaltik (meremas dan mendorong) sebagai pengaruh obat pencahar. Makanan pun akan segera bergerak maju, dan keluar dari tubuh melalui dubur (anus). Akibatnya, saluran pencernaan tidak diberi cukup kesempatan untuk menyerap sari makanan yang terkandung dalam makanan tersebut, termasuk zat lemaknya. Penimbunan lemak berkurang, berarti proses kegemukan dapat dihambat.

Namun perlu diingat bahwa agar efektif, ramuan obat pelangsing yang bersifat mencahar tersebut perlu diminum setiap hari. Berarti pula bahwa selama jangka waktu tertentu, setiap hari pemakai ramuan akan buang air besar di luar takaran normal. Ini dapat merugikan kesehatan pemakai, karena penyerapan sari makanan oleh saluran pencernaan jadi terganggu. Dan yang tak kalah penting, sintesa vitamin-vitamin oleh bakteri dalang usus besar (vitamin B kompleks dan vitamin K) ikut terganggu. Selain itu mineral- mineral (kalium dan natrium) yang penting bagi tubuh tidak diabsorbsi lagi dalam usus besar, yang dapat mengakibatkan kelemahan otot (Tjay T.H. Drs. dan Kie, T.K Drs.,1964). Lagipula, penggunaan bahan pencahar yang terlalu sering membuat tubuh sulit buang air besar secara normal.

Bahan yang bersifat pencahar yang banyak dipakai dalam ramuan jamu pelangsing tradisional, misalnya akar kalembak (Rhei radix), daun atau biji sena (Sennae folium atau Sennae semen), rimpang temulawak (Curcumae rhizoma) atau rimpang kunyit (Curcumae longae rhizoma) juga bersifat laksatif, tetapi kerjanya lemah sehingga pengaruhnya kecil.

Ramuan yang mengandung zat samak juga mengurangi penyerapan sari makanan, meskipun cara kerjanya lain. Jika dikonsumsi, zat samak akan mengerutkan selaput lendir saluran pencernaan. Terjadilah penggumpalan terbatas pada selaput lendir sehingga penyerapan sari makanan, termasuk zat lemak, dihambat. Kejelekannya adalah jika sering digunakan adalah kemungkinan terjadinya gangguan pada lambung.

Bahan-bahan yang mengandung zat samak, antara lain akar kalembak (Rhei radix), majakan (jaringan patologik kulit batang Quercus lusitania Lamk), kayu rapat (kulit batang Parameria laviegata Maldenke), dan kulit buah delima (Punica granatum L.). Perlu diperhatikan bahwa beberapa jenis zat samak yang terdapat dalam tumbuhan merupakan senyawa glikosida. Jika tercampur air zat-zat ini akan terurai lebih lanjut. Singkatnya, zat- zat ini dapat larut dalam air sehingga kerjanya jadi hebat sekali dan dapat menimbulkan iritasi pada lambung, serta menyebabkan rasa mual sampai muntah- muntah (Goodman, L.S. & Gilman, L., 1960). Karena itu, penggunaan bahan ini dalam ramuan sebaiknya juga dihindari.

Ramuan yang mengandung bahan- bahan yang berlendir mengurangi penyerapan sari makanan dengan membentuk lapisan yang melindungi selaput lendir saluran pencernaan. Berkat adanya lendir, perjalanan makanan dalam saluran pencernaan diperlancar sehingga keberadaannya dalam saluran pencemaran dipersingkat. Alhasil, penyerapan sari makanan berkurang. Penimbunan lemak pun terhambat sehingga kegemukan dapat dihindari pula.

Salah satu bahan berlendir yang sudah sering digunakan dalam ramuan jamu pelangsing adalah daun jatiblanda (Guazuma ulmifolia Lamk), yang banyak tumbuh di Indonesia. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa rebusan daun jatiblanda dengan kepekatan 15% yang dicekokkan pada mencit (sebangsa tikus)

menunjukkan penurunan bobot badan mencit (Andarini, L , 1987). Sedang berdasarkan penelitian Imono Argo 1997, pada mencit berbobot badan 20 g, dosis 50 mg sehari belum menimbulkan kematian. Jika diterapkan pada manusia, dosis Ini setara dengan 19,4 g pada bobot badan 70 kg (Paget, G.E & Bames, J.M.). Berarti penggunaan daun jatiblanda pada orang dewasa sampai dosis 19,4 g sehati masih aman

Ramuan lain yang sering digunakan adalah bahan yang berkhasiat sebagai peluruh air seni. Bagaimana mekanisme kerjanya untuk mengurangi lemak tubuh belumlah jelas. Yang pasti, bahan yang bersifat diuretik akan memaksa ginjal untuk mengeluarkan air seni lebih banyak dari biasanya (Krantz, J.C. dan Carr, C.J., 1961). Timbul kekhawatiran bahwa penggunaan dalam jangka waktu lama akan mengganggu fungsi ginjal. Karena potensinya yang sangat merugikan kesehatan Itulah, maka penggunaan ramuan semacam ini perlu dipikirkan dengan seksama.

images (4) jamu pelangsing

Agar selamat

Untuk mendukung upaya pencegahan kegemukan, ramuan tradisional bisa menjadi salah satu pilihan Anda. Namun, yang perlu dijaga adalah agar jangan sampai upaya ini menjadi bumerang dan justru merugikan kesehatan tubuh Anda

Sebelum menentukan pilihan, bacalah label kemasan:

  • Ramuan jamu pelangsing yang mengandung bahan pencahar seperti daun/biji sena (Sennae folium atau Sennae semen) atau akar kalembak (Rhei radix) perlu diwaspadai. Demikian pula ramuan pelangsing yang mengandung zat samak.
  • Sedang ramuan pelangsing yang mengandung bahan diuretik, selain tidak jelas mekanisme kerjanya, juga bisa merugikan kesehatan karena mungkin mengganggu kerja ginjal.
  • Penggunaan ramuan jamu pelangsing yang mengandung bahan yang berlendir relatif lebih aman karena tidak mengganggu kerja organ tubuh, asal dibatasi dosisnya sampai 19,4 g sehari untuk orang dewasa dengan bobot badan 70 kg

Incoming search terms:

Bagikan informasi tentang JAMU PELANGSING AMANKAH? kepada teman atau kerabat Anda.

JAMU PELANGSING AMANKAH? | Caca.co.id

Komentar dinonaktifkan: JAMU PELANGSING AMANKAH?

Maaf, form komentar dinonaktifkan.

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
SIDEBAR