• Kontak Kami
  • Hotline : 083811131344
  • SMS : 083811131344
  • BBM : 5C58CBCC

Kontak Kami

( pcs) Checkout

Beranda » Artikel Terbaru » 7 Tindakan Bedah Berisiko

7 Tindakan Bedah Berisiko

Diposting pada 24 Mei 2016 oleh khanza

 

TINDAKAN bedah atau operasi, sekecil apapun, tidak terlepas dari faktor risiko. Misalnya saja infeksi, masa penyembuhan yang memakan waktu relatif lama, menimbulkan bekas cacat pada tubuh pasien, bahkan adanya kemungkinan komplikasi baru — jika operasi kurang sukses.

Beberapa operasi tersebut di antaranya adalah operasi pengangkatan kelenjar prostat (prostatektomi), pengangkatan rahim (histerektomi), pengangkatan payudara (radikal mastektomi)dan operasi sinusitis yang masih menjadi kontroversi baik di dalam maupun di luar negeri. Selain mahal, operasi itu memiliki risiko cukup tinggi.

Ada baiknya Anda mengetahui kapan operasi- operasi tersebut harus dipertimbangkan, dilakukan, atau justru ditolak. Caranya, tentu dengan mengetahui apa saja batasan-batasannya, faktor apa saja yang harus diperhatikan, serta tidak lupa meminta saran ahli yang lain sebagai pendapat kedua (second opinion) untuk lebih memantapkan keputusan.

  • Operasi batu empedu (Laparoctomy cholecystectomy)

Operasi yang juga sering disebut cara konvensional ini merupakan tindakan pengangkatan batu empedu beserta kantungnya dengan membedah perut (abdominal).Dalam operasi ini, bagian perut disayat sepanjang 15 hingga 20 sentimeter. Menurut Dr. Errawan Wiradisuria SpBD, FICS, dokter spesialis bedah sekaligus konsultan saluran cerna dan bedah laparoskopi dari RS Medistra, Jakarta, kini jenis operasi tersebut mulai ditinggalkan. Alasannya, operasi tersebut dianggap memiliki banyak risiko di antaranya kemungkinan infeksi lebih besar, masa penyembuhan lebih lama dan secara kosmetika kurang menguntungkan.

Alternatifnya adalah kolesistektomi laparoskopi. Operasi ini dilakukan dengan menyayat lipatan pusar sepanjang 5 hingga 10 milimeter. Luka yang kecil akan menurunkan risiko infeksi. Selain itu, karena pada kolesistektomi laparoskopi tidak ada manipulasi usus, maka pergerakan usus pasien setelah operasi (yang ditandai dengan buang angin) akan lebih cepat. Berbeda dengan cara konvensional yang membutuhkan waktu perawatan sekitar 5 hari, operasi dengan laparoskopi cukup dengan 1 hingga 2 hari.

Efek samping jika Anda melakukan operasi koleksistektomi, baik konvensional maupun laparoskopi adalah ‘‘menurunnya’’ kemampuan tubuh untuk mencerna lemak. Akibatnya, Anda bisa mual atau diare usai mengkonsumsi makanan yang berlemak. Ini disebabkan karena cadangan cairan empedu yang ada pada kantung empedu sudah tidak Anda miliki lagi.

Meskipun laparoskopi dinilai risikonya lebih kecil dari operasi konvensional, Richard N. Podell, M D dalam bukunya yang berjudul When Your Dodor Doesn’t Know Best menyarankan agar dokter bedah yang Anda pilih setidaknya sudah 40 kali sukses melakukan operasi koleksistektomi dengan laparoskopi. Dokter yang tidak berpengalaman dengan alat canggih seperti laparoskopi justru membuat operasi ini berisiko lebih besar.

Jadi, jangan pernah ragu untuk mencari tahu riwayat dokter yang hendak mengoperasi Anda itu. “Pastikan juga bahwa batu empedu merupakan penyebab utama dari sakit yang Anda derita. Cari pendapat kedua. Jika mungkin, tanyakan apakah ada cara alternatif seperti penggunaan obat atau penghancuran batu empedu menggunakan gelombang suara (lithotripsy)” saran Richard.

  • Operasi usus buntu (Prophylactic appendectomy)

7 Tindakan Bedah Berisiko  (2)

“Sekalian diambil saja usus buntunya, daripada nanti kambuh di kemudian hari.” Anda yang pernah menjalani operasi pembedahan perut mungkin pernah mendapat saran semacam ini. Ya, operasi pengambilan usus buntu (apendiks) —meskipun tidak ada keluhan- memang cukup lazim dilakukan.Alasannya,karena usus buntu atau yang sering umabai cacing karena bentuknya ini dianggap “tidak terlalu bermanfaat”.Jadi dari pada dikemudian hari bermasalah lebih baik ya di buang saja saat ada kesempatan. Di sisi lain, pengambilan usus buntu sebagai tindakan preventif ini mengundang kontroversi. Kontra, karena di dalam usus buntu terdapat kelenjar yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh (antibodi). Dengan diambilnya usus buntu, dikhawatirkan daya tahan tubuh akan terpengaruh.

Nah, menanggapi hal ini Dr Errawan tidak menampik bahwa setiap organ tubuh, termasuk usus buntu, memang memiliki manfaat. Hanya saja, jika dikaitkan dengan fungsinya untuk menjaga daya tahan tubuh, usus buntu bukanlah satu-satunya organ. “Dengan kata lain, tanpa usus buntu pun daya tahan tubuh orang yang bersangkutan sama seperti orang yang tidak memiliki usus buntu,” tuturnya.

Operasi pengambilan usus buntu mutlak harus sesegera mungkin dilakukan jika ada gejala, di antaranya terdapat rasa sakit pada perut bagian kanan, atau didiagnosa sebagai radang usus buntu akut. Jika usus buntu didiagnosa sebagai radang usus buntu kronis, operasi tetap harus dilakukan namun tidak segera. Radang usus buntu akut biasanya ditandai dengan rasa sakit yang tidak tertahankan dan demam akibat adanya peradangan atau

  • Operasi pengangkatan payudara (radical mastectomy)

Oliver Cope, seorang ahli bedah dari universitas Harvard dalam bukunya yang berjudul The Breast: Its Problem Benign and Malignant and How to Deal with Them, menggambarkan radikal mastektomi sebagai tindakan mengangkat payudara beserta jaringan, puting payudara dan bagian lainnya yang terserang kanker, termasuk kelenjar getah bening di ketiak dan otot besar (pektoralis mayor).

Menurut Dr Henry Naland, SpOnk, dokter ahli bedah tumor (onkologi) dari RS. Mitra Internasional mengatakan bahwa sejak tahun 1990-an, jenis operasi ini sudah jarang dilakukan. Jerman bahkan sudah tidak menggunakannya lagi sejak tahun 1979. Tentu saja, karena operasi ini dianggap sangat merugikan. Tidak hanya secara kosmetik dan cacat fisik, namun kemampuan tangan pasien untuk beraktifitas akan sangat berkurang. Belum lagi, efek psikologis yang sering timbul akibat wanita merasa “kehilangan” payudaranya.

Modified mastectomy, adalah tindakan mastektomi modifikasi yang sekarang lebih banyak digunakan.

Pada operasi ini, otot besar tidak ikut dibuang, atau hanya dibuang sebagian saja jika sangat diperlukan. Metode ini dianggap jauh lebih menguntungkan karen; secara kosmetika, cacat yang ditimbulkan lebih kecil dan hasilnya sama efektif jika dibandingkan dengan radikal mastektomi. Lalu, masihkah radikal mastektomi diperlukan?

DR Henry Nalad mengatakan “radikal matektomi diperlukan jika sel kanker telah mengenai pektoralis ,atau besarnya kanker sudah lebih dari diameter 4cm.Itu pun masih harus dilihat bagaimana kondisi pasien dan perangai kankernya. Jika sudah ada penyebaran sel kanker, maka harus dilakukan kemoterapi dulu untuk memperkecil atau “mengumpulkan” sel kanker. Tujuannya, agar ketika dioperasi, sel kankernya benar- benar bersih. Pada prinsipnya, kemoterapi, apalagi radikal mastektomi, harus dilakukan jika kondisi pasien baik.Ini di antaranya bisa dilihat dari fungsi liver, ginjal dan jantungnya. ”

  • Operasi pengangkatan rahim (hysterectomy)

7 Tindakan Bedah Berisiko  (4)

Dalam situs Hotflashes dilaporkan bahwa di Amerika, setiap tahun 500.000 perempuan menjalani histerektomi. Padahal sejumlah pakar di sana berpendapat bahwa lebih dari sepertiga tindakan histerektomi sebenarnya tidak diperlukan.

Termasuk di Indonesia, salah satu alasan untuk histerektomi adalah endometriosis. Sebenarnya, histerektomi dianggap sebagai tindakan final yang baru dilakukan jika terapi seperti pemberian hormon dianggap tidak berhasil.

Kasus endometriosis yang belum parah hanya perlu operasi pengambilan endometriosis dan perlekatannya. Pada kasus yang lebih lanjut, histerektomi sebagian dilakukan dengan mengangkat rahim, namun kedua indung telurnya masih ada. Sedangkan histerektomi total yang mengangkat seluruh rahim, saluran indung telur, dan ovarium sekaligus, akan dilakukan pada wanita yang sudah tidak ingin mempunyai anak lagi atau yang penyakitnya sudah sangat parah.

Mengutip ucapan Dr Med Ali Baziad, SpOG-KFER, lokter ahli kandungan dan kebidanan dari RS Cipto Aangunkusumo (RSCM) Jakarta, dalam majalah Jirmal yang disebabkan oleh faktor alergi, merokok, atau stres. Tanpa mengobati penyebab asalnya, sinusitis dapat kambuh lagi meskipun sudah dioperasi.

Histerektomi mutlak dilakukan jika pasien menderita ker rahim, kanker indung telur, serta kanker mulut ganas, atau untuk mengatasi kanker lain yang menyebar ke organ reproduksi. Tindakan ini disarankan untuk kasus fibroid (tumor jinak) yang jhnya cepat, endometriosis berat, kerusakan serius pada rahim akibat infeksi atau persalinan, pendarahan nyeri kronis pada pelekatan panggul, dan turunya rahim.

sebaliknya, histerektomi dinilai tidak tepat untuk pra kanker mulut rahim, kista pnak indung telur, kecil tanpa rasa nyeri. Oleh karena itu, jika Anda direkomendasikan untuk histerektomi, ketahui dengan pasti nya, jenis histerektomi dan kemungkinan  yang bisa dilakukan.

  • Operasi pengangkatan kelenjar prostat (prostatectomy)

Dokter Andrew Weil, M D dari University of Arizona College of Medicine, Amerika, mengatakan bahwa jumlah pria di dunia yang telah menjalani operasi pengangkatan kelenjar prostat secara total (prostatektomi) sudah tak terhitung jumlahnya. Operasi ini memungkinkan cedera atau terangkatnya saraf yang berada di sekitarnya sehingga berisiko menimbulkan disfungsi ereksi. Beberapa alasan dilakukannya prostatektomi di antaranya adalah pembesaran prostat jinak (benign prostate hyperplasia atau sering disebut BPH) dan kanker prostat stadium dini.

Padahal menurut Andrew, BPH dan kanker prostat stadium dini sebenarnya masih bisa diatasi dengan beberapa alternatif terapi dan tindakan, sebelum sampai pada tahap prostatektomi. Di antaranya, terapi menggunakan herba saw palmetto (Serenoa repens) dan pygeum (Pygeum africanum). Beberapa jenis obat seperti alfal-blocker dan Hnasterid juga dapat membantu.

Operasi pembedahan baru dilakukan jika terdapat gejala darah dalam air seni (hematuria), infeksi saluran kemih berulang, atau air kemih tertahan dalam kandung kemih (retensio uri). Pemilihan prosedurnya pun disesuaikan dengan beratnya gejala, ukuran dan bentuk kelenjar prostat.

Kini telah dikembangkan sebuah metode yang dianggap lebih “bersahabat” dari prostatektomi, yakni Trans Urethral Resection (TUR). Keuntungan dari TUR adalah tidak perlu dilakukan penyayatan, namun cukup dengan menggunakan endoskopi yang dimasukkan melalui penis (bagian uretra). Operasi ini juga dianggap memiliki risiko impotensi yang lebih kecil daripada prostatektomi.

Masalahnya, TUR tidak efektif lagi jika kanker prostat sudah mendekati kapsul (pembungkus prostat). Dalam kasus ini, prostatektomi harus dilakukan.

  • Operasi sinusitis

Sinusitis, yang ditandai dengan gejala pilek yang tak sembuh-sembuh, sering disertai pula dengan sakit kepala dan mata memerah kerapkali mengundang pertanyaan bagi penderitanya, “Haruskah sinusitis saya dioperasi?” Operasi sinusitis sendiri masih dianggap kontroversial, karena penyebabnya bermacam-macam.

Dua faktor yang menyebabkan terjadinya sinusitis dibagi menjadi dua jenis, yakni hidung (rinogen) dan gigi (dentogen). Penyebab hidung bisa berupa alergi, infeksi hidung, polip, tumor, atau adanya kelainan struktur ronga hidung. Sedangkan penyebab dari gigi bisa berasal dari infeksi gigi. Bahkan, stres juga disebut sebagai faktor yang turut memkngsinusitis.

Melihat akar penyebab sinusitis yang bermacam- macam Andrew weil mengatakan bahwa tidak semua sinusitis bisa diatasi dengan operasi. Operasi sinusitis bertujuan mengambil jaringan sinus yang terinfeksi.

Pada sinusitis yang disebabkan alergi, Andrew menganggap mengubah gaya hidup dengan menghindari faktor pencetus timbulnya gejala adalah pilihan yang lebih tepat. Jika penyebabnya infeksi, maka sinusitis diobati dengan antibiotik. Sedangkan untuk mempermudah pengeluaran lendir dari hidung, biasanya diberikan obat dekongestan untuk melonggarkan hidung.

Operasi sinusitis diperlukan dalam kondisi akut seperti pada kasus sinusitis maksilaris, kanker gusi, atau kanker tulang rahang atas. Namun jenis operasi radikal seperti operasi Caldwell Luc yang membuat lubang di rahang atas sudah mulai jarang dilakukan. Sekarang, ada operasi lebih canggih yang dianggap “lebih manusiawi” yang disebut Functional endoscopic Sinus Surgery (FESS). Operasi ini dilakukan dengan bantuan alat endoskopi.

Operasi tulang belakang

Mengutip situs kesehatan dunia, Mayoclinic, faktor-faktor seperti trauma, usia, atau pergerakan tubuh yang kurang tepat dapat mencederai tulang punggung, termasuk saraf-saraf yang terdapat di dalamnya. Kondisi ini menimbulkan rasa sakit atau nyeri. Beberapa penanganan non operasi yang dilakukan di antaranya dengan menggunakan obat-obatan antiradang, terapi panas dingin, pemijatan atau terapi fisik. Jika terapi- terapi tersebut dianggap tidak membantu, operasi akan dianjurkan.

Beberapa di antara operasi tulang belakang yang kerap dilakukan, terutama untuk mengatasi problem nyeri kronis dan bantalan tulang yang mendesak saraf (slipped discs) di antaranya adalah laminektomi dan penyambungan saraf {spinal fusion). Laminektomi adalah operasi pemisahan atau pengangkatan bagian dan cincin tulang belakang untuk mengatasi bantalan tulang yang menekan saraf. Sedangkan spinal fusion adalah operasi untuk menyatukan dua bagian tulang belakang.

Sementara itu, Arn Strasser, D.C, seorang kairopraktor dari Center for Chiropractor ir Tain Rehabilitation, Portland, Oregon, Amerika Serikat, mengatakan bahwa tidak semua kondisi slipped discs perlu operasi. Pada prinsipnya, bantalan tulang yang menekan saraf sehingga menimbulkan rasa nyeri dan menimbulkan keterbatasan gerak, bisa “dibebaskan”. Kondisi itu diatasi dengan melakukan tindakan koreksi dan beberapa terapi sehingga pergerakan pasien akan kembali normal dan rasa nyeri bisa diatasi.

Operasi bisa saja diperlukan, jika tingkat slipped discs dinilai terlalu parah. Ada beberapa kondisi lain yang dinilai kurang tepat ditangani oleh kairopraktor. Misalnya, jika pasien dicurigai mengalami sindrom cauda equina (gangguan fungsi kandung kemih dan usus yang diakibatkan oleh penekanan saraf). Pasien yang menderita sindrom ini akan direkomendasikan pada dokter bedah saraf untuk ditangani lebih lanjut. (N)

Incoming search terms:

Bagikan informasi tentang 7 Tindakan Bedah Berisiko kepada teman atau kerabat Anda.

7 Tindakan Bedah Berisiko | Caca.co.id

Komentar dinonaktifkan: 7 Tindakan Bedah Berisiko

Maaf, form komentar dinonaktifkan.

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
SIDEBAR